Advanced Search

  • SEARCHING...
  • SEARCHING...

Detail Record


XML

Bandit dan Pejuang Di Simpang Begawan

Buku Bandit dan Pejuang di Simpang Bengawan ( Kriminalitas dan Kekerasan Masa Revolusi di Surakarta ) diangkat dari tesis penulis untuk memperoleh gelar magister dari Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Julianto Ibrahim, S.S. M. Hum. Merupakan salah satu staf pengajar di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Beberapa tulisan yang pernah dibuatnya antara lain : “ Runtuhnya Swapraja Surakarta” ( 1996 ), “ Antara Diplomasi dan Perjuangan : Konflik Sjharir dengan Tan Malaka” ( 1998 ), “ Jalan Kiri yang Terbelah: Konflik Sjharir dengan Amir Syarifudin” ( 2000 ), “ Kriminalitas di Kota Oposisi” ( 2000 ), “ Hegemoni Orde Baru dan Budaya Tandingan : Kasus Foto Ajaib di Blitar Jawa Timur ( 2001 ), “ Teather Rakyat Sebagai Media Kritik Sosial : Humor dalam Lenong Betawi” ( 2001 ), “Politik Ekonomi Pendudukan Jepang di Surakarta” ( 2002 ), “ Militer dan Kapitalisme Erzats : Bisnis ABRI pada Masa Orde Baru” ( 2002 ).
Buku ini secara garis besar membahas mengenai Kriminalitas dan kekerasan yang terjadi di wilayah karesidenan Surakarta masa Revolusi Sosial di Surakarta. Gejolak social yang terjadi di Surakarta timbul akibat kekecewaan masyarakat kelas bawah terhadap kelas atas serta kevakuman kewibawaan otoritas pada masa itu. Pergolakan social yang terjadi di Surakarta bersamaan dengan revolusi fisik, dijalankan dengan cara-cara kekerasan dan criminal. Penulis mencoba menggambarkan bentuk-bentuk kekerasan dan kriminalitas yang muncul bersamaan dengan semangat para pejuang masa revolusi fisik.
Kriminalitas merupakan fenomena yang menarik selama berlangsungnya revolusi. Bentuk-bentuk kriminalitas yang muncul seringkali dilakukan oleh para gedor, jagoan, bajingan maupun lenggaong. Sartono Kartodirdjo mengemukakan bahwa selama berlangsungnya revolusi, kekuatan kaum criminal seringkali membonceng gerakan revolusioner. Oleh karena itu, sangat sulit membedakan antara pejuang dengan bandit atau antara pahlawan atau penjahat. Batas antara pejuang dengan bandit dalam revolusi sangatlah tipis. Bahkan, seorang pejuang bisa menjadi bandit dan seorang bandit bisa juga merupakan pejuang. Perbedaan mendasar antara pejuang dan bandit terletak pada kepentingan mereka dalam menjalankan revolusi. Akan tetapi sasaran korban kekerasan dan kriminalitas mereka tetap sama, yaitu orang-orang yang dianggap dekat dengan Belanda atau orang-orang Cina, para bekel, pejabat daerah ataupun penguasa setempat.Sartono Kartodirdjo mengemukakan bahwa pejuang melakukan kekerasan dengan tuntutan mengganti penguasa tradisional dengan tokoh-tokoh yang dikehendaki rakyat, sedangkan kaum criminal melakukan kejahatan berdasarkan kepentingan pribadi.
Kekerasan dan Kriminalitas yang dilakukan oleh pejuang yang membandit atau bandit sejati yang kemudian menjadi pejuang merupakan sebuah gambaran menarik dan unik dalam perjalanan revolusi social di Surakarta. Dengan melihat bentuk-bentuk kriminalitas yang muncul selama masa revolusi maka akan sangat sulit membedakan antara bandit dan penjuang yang memanfaatkan keadaan revolusi untuk mengambil keuntungan dari carut-marut suasana revolusi. Kekerasan yang dilakukan oleh pejuang semasa revolusi social seperti penculikan, pembunuhan, pembakaran maupun penjarahan dapat diidentifikasikan sebagai protes social, sedangkan para bandit memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadinya. Mereka melakukan penggedoran, penggrayakan, maupun pengkoyokan sebagai profesi. Para bandit biasanya berhubungan erat dengan para pejuang, kadang hubungan mereka berlangsung dalam hubungan timbal balik yang saling menguntungkan.
Buku ini disusun dengan sangat komprehensif karena didukung dengan data-data dari dokumen sejarah pada masa revolusi tahun 1945-1950 serta data-data kriminalitas yang terjadi pada masa revolusi di Surakarta. Data serta arsip sebagai bahan penelitian dalam buku ini didapat dari arsip-arsip di Reksa Pustaka, ANRI, secara khusu menggunakan arsip inventaris kepolisian yang tersimpan di ANRi untuk mendapatkan data-data kriminalitas yang terjadi di Surakarta, ditambah dengan kabar berita dari surat kabar dan majalah yang sezaman dengan revolusi social. Selain itu buku ini mencoba mengaitkan psychological pressures di satu puhak dan dissatisfaction di pihak lain. Kedua istilah ini menciptakan factor politik, psikologis, dan cultural bersama-sama yang bermuara pada ketertekanan batin yang melahirkan kompensasi tak terkontrol berupa perilaku-perilaku anarkis, vandalis, dan opportunis. Dimana dalam keadaa tersebut pada akhirnya menghasilkan perampokan, kekerasan, dan pembunuhan, dan bentuk-bentuk kekerasan yang lain.
Bab pertaman dalam buku ini lebih kepada pendahuluan dimana penulis mencoba membawa pembaca untuk memahami terlebih dahulu pokok bahasan yang akan disampaikan penulis pada bab-bab selanjutnya dalam buku ini.
Pada bab kedua penulis membicarakan mengenai “ Panggung Surakarta”. Sebagai sebuah panggung, maka dikemukakan mengenai kondisi dan setting atau latar belakang Surakarta. Oleh karena itu dalam bab kedua ini dibahas mengenai monografi atau kondisi alam wilayah karesidenan Surakarta, struktur social, ekonomi, maupun politik yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap kondisi Surkarta masa revolusi. Kondisi social, ekonomi, politik yang dibahas adalah kondisi yang terjadi pada masa colonial Belanda dan masa pendudukan Jepang.
Pada bagian ketiga, membahas mengenai masalah-masalah social di Surakarta pada masa revolusi. Pada bagian awal dalam bab III ini, dibahas mengenai keadaan Surakarta pada masa awal revolusi, seperti keberadaan badan-badan perjuangan dan kekuatan-kekuatan politik di Surakarta, proses penggantian pemerintahan dari Jepang kepada kaum revolusioner, keadaan dan ciri-ciri revolusi social dan kedudukan Surakarta sebagai “kota oposisi”. Selanjutnya dibahas mengenai kondisi demografi, social, dan ekonomi, yang terjadi pada masa revolusi dan kedudukan kepolisian dalam penanganan kejahatan di Surakarta. Pada bagian akhir digambarkan mengenai masalah-masalah social yang sering terjadi di Surakarta pada masa revolusi, seperti perdagangan candu dan uang palsu
Bab IV membahas mengenai kekerasan yang disebabkan oleh badan-badan perjuangan dan kekuatan-kekuatan politik beserta badan-badan perjuangan yang berada di Surakarta. Selanjutnya pembahasan berlanjut mengenai peranan kekuatan politik dan badan perjuangan dalam meruntuhkan swapraja di Surakarta. Pembahasan berikutnya mengenai kompetisi dan konflik diantara kekuatan politik di Surakarta yang bermuara pada peristiwa Madiun. Pada akhirnya akan dibahas mengenai keresahan-keresahan di pedesaan Surakarta yang disebabkan oleh tentara-tentara yang sedang bergerilya.
Penggedoran sebagai suatu bentuk perbanditan social di Surakarta. Selama masa revolusi penulis coba ketengahkan dalam bagian bab ke V dalam buku ini. Pembahasan akan dimulai dengan menerangkan pengertian perbanditan dan “dunia hitam” para benggol yang berperan penting dalam kejahatan di Surakarta, dan aksi-aksi penggedoran yang terjadi di Surakarta selama masa revolusi. Pada bagian yang terakhir merupakan penutup yang berupa kesimpulan akhir dari seluruh uraian dalam buku ini.
Kekerasan dan kriminalitas masa revolusi di Surakarta merupakan refleksi kelampauan dan kekinian serta hasrat terpendam dari dalam dan pengaruh dari luar. Kekecewaan masyarakat Surakarta tersebut tidak dapat dilepaskan dari tiga patokan yang terjadi sebelum masa revolusi, yaitu penindasan masa colonial, ekspoitasi masa Jepang, dan kekacauan pada masa awal revolusi. Gerakan revolusioner yang menginginkan pergantian kekuasaan tradisional di Surakarta diboncengi oleh kekuatan criminal. Sementara itu terjadinya aksi kriminalitas di Surakarta merupakan bagian pula dari protes social para bandit melakukan kejahatan tidak terlepas pula dari kondisi social ekonomi yang mereka alami. Dalam situasi revolusi social tersebut kaum criminal memanfaatkan situasi untuk kepentingan pribadinya
Ibrahim, Julianto - Personal Name
959.8035 IBR b
979-97919-0-1
959.8035
Printed Book
Indonesia
Bina Citra Pustaka
2004
Wonogiri Jawa Tengah
xix+318hlm
LOADING LIST...
LOADING LIST...