Lanskap Strategi Diplomasi Budaya: Studi Kasus Terhadap Bali International Choir Festival Tahun 2012 – 2024
Transformasi praktik diplomasi kontemporer menunjukkan penguatan peran soft power melalui medium budaya yang lebih partisipatoris dan berbasis masyarakat. Festival seni internasional tidak lagi sekadar ruang representasi ekspresi artistik, tetapi semakin berkembang dan berfungsi sebagai instrumen diplomasi yang memfasilitasi interaksi antarbudaya, pembentukan citra, kepercayaan, serta pembangunan konektivitas lintas negara. Dalam konteks perkembangan ekosistem paduan suara yang semakin terorganisasi dan terhubung dengan jejaring global, Bali International Choir Festival (BICF) hadir sebagai platform yang mempertemukan komunitas internasional melalui pendekatan kesenian. Kehadiran BICF merefleksikan praktik track-three diplomacy, di mana aktor non-negara memainkan peran signifikan dalam membangun relasi internasional melalui jalur non-formal. Penelitian kualitatif dengan desain studi kasus ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana BICF memanfaatkan aspek-aspek strategis dari sarana diplomasi kebudayaan, sekaligus mengidentifikasi bentuk-bentuk diplomasi kebudayaan yang terimplementasi melalui festival tersebut dalam kurun 2012–2024. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, observasi lapangan, serta wawancara mendalam dengan Bandung Choral Society sebagai inisiator dan penyelenggara, international choral expert, partisipan festival, perwakilan pemerintah daerah, serta penulis buku diplomasi kebudayaan. Analisis penelitian dilakukan dalam kerangka utama konsep diplomasi kebudayaan, dengan dukungan konsep track-three diplomacy dan aktor non-negara sebagai perangkat analitis. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa BICF mengoptimalkan kesenian sebagai medium simbolik yang relatif inklusif, pendidikan sebagai ruang transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas, serta pariwisata sebagai kanal promosi citra wilayah. Implementasi diplomasi kebudayaan terwujud melalui berbagai bentuk interaksi, antara lain eksebisi dan kompetisi paduan suara, ruang negosiasi, pertukaran ahli, serta misi dan studi artistik lintas negara. Pola-pola tersebut memperlihatkan bahwa festival berfungsi sebagai arena perjumpaan yang terstruktur sekaligus fleksibel, memungkinkan terbentuknya jejaring kolaboratif dan konektivitas komunitas global yang berkelanjutan. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa BICF merepresentasikan praktik diplomasi kebudayaan yang diimplementasikan secara strategis, dimana aktor non-negara secara aktif menginisiasi dan mengimplementasikan strategi relasi internasional melalui medium seni paduan suara. Implementasi tersebut menegaskan bagaimana diplomasi budaya dalam konteks kontemporer tidak lagi bersfiat eksklusif milik negara, melainkan dijalankan secara konkret di tingkat masyarakat, sekaligus menjadi arena kolaboratif yang berkontribusi membentuk persepsi, memperluas jejaring, serta memperkuat posisi Indonesia dalam lanskap soft power berbasis budaya.
Kata Kunci : Diplomasi Budaya, Bali International Choir Festival, Bandung Choral Society, Track-Three Diplomacy, Aktor Non-Negara.
Daftar Pustaka : 107 (1984 – 2024)
Kata Kunci : Diplomasi Budaya, Bali International Choir Festival, Bandung Choral Society, Track-Three Diplomacy, Aktor Non-Negara.
Daftar Pustaka : 107 (1984 – 2024)
Naufal Afif Azmi - Personal Name
222131071 - Naufal Afif Azmi
TESIS PMH
Tesis PMH
Indonesia
Universitas Paramadina
2026
Jakarta
210 hlm
LOADING LIST...
LOADING LIST...