Advanced Search

  • SEARCHING...
  • SEARCHING...

Detail Record


XML

Musik sebagai Media Alternatif: Kritik Sosial Lagu “Bayar, Bayar, Bayar” oleh Sukatani (Analisis Resepsi Stuart Hall)

Penggunaan media menjadi sangat masif, terutama sejak kehadiran internet. Media memiliki peran dalam membentuk opini publik, khususnya dalam konteks kritik sosial. Namun, konten media yang mengandung kritik terhadap penguasa sering kali sulit mendapat ruang di media arus utama. Di sinilah media alternatif hadir, salah satunya melalui musik. Dalam konteks ini, band Sukatani mengkritik praktik kepolisian dalam lagu “Bayar, Bayar, Bayar” yang menggambarkan realitas sosial terkait praktik pungutan liar, seperti dalam pembuatan SIM, tilang, hingga penyelenggaraan acara musik. Lagu ini viral usai video klarifikasi permintaan maaf personel Sukatani dan penarikan lagu dari platform musik, yang justru memicu reaksi negatif terhadap Kepolisian. Dukungan publik melalui media sosial, tagar #KamiBersamaSukatani, slogan “1312” atau ACAB (All Cops Are Bastard), dan pemutaran lagu tersebut pada demo Indonesia Gelap menjadi simbol perlawanan terhadap tindakan represif Polisi. Fenomena ini menunjukkan bahwa musik tidak hanya dinikmati sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang diskusi makna bagi pendengarnya. Teori Encoding-Decoding Stuart Hall (2006) menjelaskan bahwa audiens menginterpretasikan pesan media sesuai dengan latar belakang sosial dan pengalaman pribadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana respon pendengar mengenai lagu “Bayar, Bayar, Bayar” oleh Sukatani melalui analisa resepsi Stuart Hall, serta menjabarkan peran lagu tersebut sebagai media alternatif dalam menyampaikan kritik sosial. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik wawancara semi terstruktur kepada lima informan, serta dokumentasi dan studi kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menunjukkan 15 (lima belas) berada di posisi dominan-hegemonik, 2 (dua) berada di posisi negosiasi, dan 3 (tiga) berada di posisi oposisi. Hal ini menggambarkan lagu tersebut dimaknai dan disesuaikan dengan latar belakang, profesi, serta pengalaman para informan. Lagu “Bayar, Bayar, Bayar” berperan sebagai media alternatif dalam kritik sosial melalui lirik lagu yang merefleksikan sistem kecurangan institusi Kepolisian, sesuai dengan realitas sosial di masyarakat.

Kata Kunci: Lagu “Bayar, Bayar, Bayar” Sukatani, Media Alternatif, Resepsi Stuart Hall.
Nida Huwaida - Personal Name
121106143 - Nida Huwaida
SKRIPSI PIK
Skripsi PIK
Indonesia
Universitas Paramadina
2025
Jakarta
115 hlm
LOADING LIST...
LOADING LIST...