Multilateralisme dan Multi-Track Diplomacy Dalam Pembentukan Southeast Asian Women Peace Mediators (SEAWPM) Sebagai Implementasi Agenda Women, Peace, and Security
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana proses pembentukan Southeast Asian Women Peace Mediators (SEAWPM) sebagai implementasi agenda Women, Peace, and Security (WPS). Topik yang dibahas berfokus pada proses pembentukan dan dinamika awal SEAWPM, mengingat SEAWPM telah terbentuk pada tahun 2020 namun sampai saat ini belum ada penelitian yang membahas topik ini. Dalam kajian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan konsep multilateralisme dan multi-track diplomacy. Data dikumpulkan melalui wawancara dan literatur, yang kemudian dianalisis menggunakan triangulasi data dari data primer dan sekunder yang telah diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan SEAWPM merupakan hasil dari diplomasi lintas aktor, termasuk pemerintah, lembaga think tank, masyarakat sipil, dan institusi
internasional. Indonesia memainkan peran sentral sebagai inisiator, dengan peran dominan yang dipegang oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Temuan ini memberikan implikasi penting terhadap proses pembentukan SEAWPM yang membuka ruang kolaborasi yang inklusif dalam mendorong perdamaian dan keamanan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam studi multilateralisme dalam isu gender dengan menyarankan agar SEAWPM dapat menjadi suatu organisasi atau institusi yang secara resmi terdaftar, agar memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menyelenggarakan berbagai program pelatihan terkait kemajuan agenda WPS dan memperluas jejaring kolaborasi lintas aktor, sehingga jangkauan dan advokasi SEAWPM dapat semakin luas dan strategis dalam mewujudkan perdamaian yang inklusif di Asia Tenggara.
Kata Kunci: multilateralisme, multi-track diplomacy, SEAWPM, agenda WPS, mediator perempuan
internasional. Indonesia memainkan peran sentral sebagai inisiator, dengan peran dominan yang dipegang oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi. Temuan ini memberikan implikasi penting terhadap proses pembentukan SEAWPM yang membuka ruang kolaborasi yang inklusif dalam mendorong perdamaian dan keamanan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi dalam studi multilateralisme dalam isu gender dengan menyarankan agar SEAWPM dapat menjadi suatu organisasi atau institusi yang secara resmi terdaftar, agar memiliki kapasitas yang lebih besar untuk menyelenggarakan berbagai program pelatihan terkait kemajuan agenda WPS dan memperluas jejaring kolaborasi lintas aktor, sehingga jangkauan dan advokasi SEAWPM dapat semakin luas dan strategis dalam mewujudkan perdamaian yang inklusif di Asia Tenggara.
Kata Kunci: multilateralisme, multi-track diplomacy, SEAWPM, agenda WPS, mediator perempuan
Nadya Ainuna Hanun - Personal Name
121105020 - Nadya Ainuna Hanun
Skripsi PHI
Indonesia
Universitas Paramadina
2025
Jakarta
66 hlm
LOADING LIST...
LOADING LIST...