Kritik Relasi Kiai Sentris dalam Pendidikan di Pesantren: Perspektif Abdurrahman Wahid (1940-2009)
Pesantren sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia memiliki karakteristik relasi kiai sentris yang menempatkan figur kiai sebagai pusat otoritas spiritual, intelektual, dan sosial. Pola hierarkis ini di satu sisi membentuk disiplin dan karakter santri, tetapi di sisi lain berpotensi menghambat kebebasan berpikir dan proses demokratisasi pendidikan. Penelitian ini menggunakan metodologi kritik ideologi dengan pendekatan kualitatif-deskriptif dalam kerangka pedagogi kritis untuk membongkar struktur kuasa yang terkandung dalam relasi kiai-santri. Landasan teorinya berakar pada paradigma pendidikan kritis Paulo Freire yang menekankan emansipasi, serta pemikiran Islam progresif yang dikontekstualkan oleh
Abdurrahman Wahid.
Penelitian menunjukkan bahwa kritik Gus Dur terhadap relasi kiai sentris tidak dimaksudkan sebagai dekonstruksi total atas pesantren, melainkan reformasi dari dalam. Kritiknya terfokus pada tiga isu utama: pertama, kebebasan berpikir sebagai prasyarat lahirnya generasi mujtahid yang kreatif; kedua, revitalisasi ijtihad untuk menjawab tantangan zaman; dan ketiga, demokratisasi pendidikan pesantren agar santri memiliki partisipasi dalam konstruksi pengetahuan. Bagi Gus Dur, ketiga aspek ini saling terkait dalam membentuk paradigma pendidikan Islam yang inklusif dan humanis.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa transformasi pesantren menuntut pergeseran dari relasi kiai-sentris menuju relasi dialogis antara kiai dan santri. Hal ini terwujud melalui reformasi kurikulum yang membuka ruang kritis, penguatan tradisi ijtihad sebagai basis pengembangan ilmu, dan penerapan model pembelajaran partisipatoris. Pesantren dalam perspektif ini bukan hanya institusi konservasi tradisi, tetapi juga laboratorium sosial yang mampu menghasilkan lulusan demokratis, transformatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Dengan demikian, pemikiran Gus Dur menjadi kontribusi penting dalam menjembatani tradisi pesantren dengan cita-cita demokratisasi pendidikan Islam di Indonesia.
Kata Kunci: kiai sentris, pesantren, Abdurrahman Wahid.
Daftar Pustaka: 72, 1980 – 2021
Abdurrahman Wahid.
Penelitian menunjukkan bahwa kritik Gus Dur terhadap relasi kiai sentris tidak dimaksudkan sebagai dekonstruksi total atas pesantren, melainkan reformasi dari dalam. Kritiknya terfokus pada tiga isu utama: pertama, kebebasan berpikir sebagai prasyarat lahirnya generasi mujtahid yang kreatif; kedua, revitalisasi ijtihad untuk menjawab tantangan zaman; dan ketiga, demokratisasi pendidikan pesantren agar santri memiliki partisipasi dalam konstruksi pengetahuan. Bagi Gus Dur, ketiga aspek ini saling terkait dalam membentuk paradigma pendidikan Islam yang inklusif dan humanis.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa transformasi pesantren menuntut pergeseran dari relasi kiai-sentris menuju relasi dialogis antara kiai dan santri. Hal ini terwujud melalui reformasi kurikulum yang membuka ruang kritis, penguatan tradisi ijtihad sebagai basis pengembangan ilmu, dan penerapan model pembelajaran partisipatoris. Pesantren dalam perspektif ini bukan hanya institusi konservasi tradisi, tetapi juga laboratorium sosial yang mampu menghasilkan lulusan demokratis, transformatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Dengan demikian, pemikiran Gus Dur menjadi kontribusi penting dalam menjembatani tradisi pesantren dengan cita-cita demokratisasi pendidikan Islam di Indonesia.
Kata Kunci: kiai sentris, pesantren, Abdurrahman Wahid.
Daftar Pustaka: 72, 1980 – 2021
Faiq Falahi - Personal Name
223141016 - Faiq Falahi
TESIS PMA
Tesis PMA
Indonesia
Universitas Paramadina
2025
Jakarta
153 hlm
LOADING LIST...
LOADING LIST...