Musik Sebagai Solusi Estetik dari Penderitaan Manusia: Filsafat Pesimistik Arthur Schopenhauer
Permasalahan utama dalam skripsi ini adalah bagaimana estetika dan khususnya Musik dapat memberikan solusi terhadap penderitaan manusia. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode historis, deskriptif, dan analitis. Metode analisis data dalam skripsi ini menggunakan pendekatan filosofis. Pengumpulan data pustaka diperoleh dari berbagai buku, jurnal dan referensi yang berhubungan dengan objek kajian penulis tentang pemikiran Arthur Schopenhauer terkait dengan filsafat pesimis dan musik sebagai solusi estetis dari penderitaan manusia.
Penderitaan manusia kemungkinan besar merupakan sesuatu yang tertanam dalam diri manusia dalam menjalani kehidupan. Hampir mustahil untuk menghindari atau bahkan menghentikan pengalaman penderitaan. Kita, manusia, akan dan harus terlibat dalam kondisi yang sangat besar seperti kemarahan, kesedihan, kegagalan, keputusasaan, ketidaknyamanan, atau emosi apa pun yang pada akhirnya kita menyadari betapa sulitnya hidup ini.
Arthur Schopenhauer percaya penderitaan manusia adalah penyebab mengerikan dari Kehendak, sebuah perjuangan buta dan tanpa tujuan karena kita selalu menuntut pengejaran tanpa akhir terhadap sesuatu. Tidak ada yang namanya tujuan akhir atau perasaan cukup, keinginan yang tumpang tindih untuk mencapai sesuatu. Bagi Schopenhauer, hidup sama dengan penderitaan. Schopenhauer percaya bahwa satu-satunya cara untuk menjinakkan “Kehendak” manusia adalah dengan menggunakan kekuatan estetika sebagai solusinya. Dari empat bentuk estetika tersebut, Schopenhauer mengatakan musik merupakan salah satu seni yang paling kuat “copy of will itself”. Musik memungkinkan manusia untuk berkomunikasi langsung dengan kehendak karena itu sekaligus merupakan pengalaman yang terpisah dan terlibat. Sejak saat itu, Musik memberikan penangkal penderitaan manusia.
Kata Kunci: Arthur Schopenhauer, Penderitaan, Kehendak, Musik.
Penderitaan manusia kemungkinan besar merupakan sesuatu yang tertanam dalam diri manusia dalam menjalani kehidupan. Hampir mustahil untuk menghindari atau bahkan menghentikan pengalaman penderitaan. Kita, manusia, akan dan harus terlibat dalam kondisi yang sangat besar seperti kemarahan, kesedihan, kegagalan, keputusasaan, ketidaknyamanan, atau emosi apa pun yang pada akhirnya kita menyadari betapa sulitnya hidup ini.
Arthur Schopenhauer percaya penderitaan manusia adalah penyebab mengerikan dari Kehendak, sebuah perjuangan buta dan tanpa tujuan karena kita selalu menuntut pengejaran tanpa akhir terhadap sesuatu. Tidak ada yang namanya tujuan akhir atau perasaan cukup, keinginan yang tumpang tindih untuk mencapai sesuatu. Bagi Schopenhauer, hidup sama dengan penderitaan. Schopenhauer percaya bahwa satu-satunya cara untuk menjinakkan “Kehendak” manusia adalah dengan menggunakan kekuatan estetika sebagai solusinya. Dari empat bentuk estetika tersebut, Schopenhauer mengatakan musik merupakan salah satu seni yang paling kuat “copy of will itself”. Musik memungkinkan manusia untuk berkomunikasi langsung dengan kehendak karena itu sekaligus merupakan pengalaman yang terpisah dan terlibat. Sejak saat itu, Musik memberikan penangkal penderitaan manusia.
Kata Kunci: Arthur Schopenhauer, Penderitaan, Kehendak, Musik.
Nafar Rizki - Personal Name
117104003 - Nafar Rizki
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2023
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...