Analisis Semiotika Mengenai Representasi Kebebasan Pada Video Musik BTS - Permission to Dance
Video Musik BTS - Permission to Dance merupakan salah satu bentuk promosi album musik BTS yaitu Butter. Secara garis besar, Video musik ini menceritakan tentang lagu yang didedikasikan kepada setiap orang yang sedang melalui hari buruk dan patah semangat dalam menghadapi kenyataan untuk segera merasakan harapan dan kebebasan dengan latar belakang pandemi Covid-19. Menampilkan semua kalangan sebagai satu kesatuan, menunjukkan keberagaman karakter dari seluruh dunia, menyoroti pekerja garda depan dan orang-orang terdampak pandemi Covid-19, kemudian dalam koreografinya BTS memasukkan tarian bahasa isyarat internasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna kebebasan direpresentasikan dalam video musik BTS - Permission to Dance,dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes, serta unsur tanda verbal dan non-verbal menggunakan mise-en-scene sehingga terdapat 18 scene dan 27 Frame yang paling merepresentasikan kebebasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode semiotika. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, dokumentasi dan wawancara.
Hasil Penelitian menunjukan bahwa video musik ini mencoba menyuarakan bahwa setiap orang berhak untuk merasakan kebebasan. Dengan makna denotasi, setiap orang
memiliki hak harapan dan kebebasan, setiap orang dengan perbedaan apapun dapat merasakan kebebasan, karena kebebasan tidak melihat dari kelebihan atau kekurangan yang dimiliki setiap individu, konotasi yang ditampilkan dalam video musik ini dengan meliputi kebebasan bertindak seperti : Kebebasan berpikir dan mengekspresikan diri, kebebasan untuk melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran dan tidak dipaksa untuk bertindak, Kebebasan adalah kehendak bebas yang setara, Kebebasan sebagai sarana untuk mencapai sesuatu (keinginan dan harapan) dan Kebebasan sebagai upaya untuk merealisasikan nilai kemanusiaan sebagai tanggung jawab moral. Serta Mitos Seperti Izin Menari, Cerita Pandemi, “Pertanda Harapan: Balon Ungu menandakan akhir dari covid-19”, “2022 awal era baru selamat tinggal covid19”, “Sampai jumpa, jangan pernah bertemu lagi”, Pakaian Cowboy Retro Denim yang digunakan, Kepercayaan atau pandangan terkait konsep mengenai kehidupan. Dan Bahasa
Isyarat yang digunakan dalam koreografi BTS untuk memperkenalkan bahasa Isyarat kepada masyarakat, penonton serta penggemarnya secara luas, sehingga dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia. Bahasa Isyarat dapat membantu mereka untuk terus menikmati musik yang dapat memberikan mereka kegembiraan dalam hidup. Melalui video musiknya BTS ingin masyarakat luas memahami bagaimana Tuna Rungu dan penyandang disabilitas lainnya.
Kata kunci: Analisis Semiotika Roland Barthes, Kebebasan Berkehendak, BTS, Permission to Dance, Bahasa Isyarat.
Daftar Pustaka: 68 Buku (2000-2018), 13 Halaman situs, 3 Jurnal online
Hasil Penelitian menunjukan bahwa video musik ini mencoba menyuarakan bahwa setiap orang berhak untuk merasakan kebebasan. Dengan makna denotasi, setiap orang
memiliki hak harapan dan kebebasan, setiap orang dengan perbedaan apapun dapat merasakan kebebasan, karena kebebasan tidak melihat dari kelebihan atau kekurangan yang dimiliki setiap individu, konotasi yang ditampilkan dalam video musik ini dengan meliputi kebebasan bertindak seperti : Kebebasan berpikir dan mengekspresikan diri, kebebasan untuk melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran dan tidak dipaksa untuk bertindak, Kebebasan adalah kehendak bebas yang setara, Kebebasan sebagai sarana untuk mencapai sesuatu (keinginan dan harapan) dan Kebebasan sebagai upaya untuk merealisasikan nilai kemanusiaan sebagai tanggung jawab moral. Serta Mitos Seperti Izin Menari, Cerita Pandemi, “Pertanda Harapan: Balon Ungu menandakan akhir dari covid-19”, “2022 awal era baru selamat tinggal covid19”, “Sampai jumpa, jangan pernah bertemu lagi”, Pakaian Cowboy Retro Denim yang digunakan, Kepercayaan atau pandangan terkait konsep mengenai kehidupan. Dan Bahasa
Isyarat yang digunakan dalam koreografi BTS untuk memperkenalkan bahasa Isyarat kepada masyarakat, penonton serta penggemarnya secara luas, sehingga dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat di dunia. Bahasa Isyarat dapat membantu mereka untuk terus menikmati musik yang dapat memberikan mereka kegembiraan dalam hidup. Melalui video musiknya BTS ingin masyarakat luas memahami bagaimana Tuna Rungu dan penyandang disabilitas lainnya.
Kata kunci: Analisis Semiotika Roland Barthes, Kebebasan Berkehendak, BTS, Permission to Dance, Bahasa Isyarat.
Daftar Pustaka: 68 Buku (2000-2018), 13 Halaman situs, 3 Jurnal online
Rania Octaviani Tanjo - Personal Name
118106060 - Rania Octaviani Tanjo
Skripsi PIK
Indonesia
Universitas Paramadina
2022
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...