Advanced Search

  • SEARCHING...
  • SEARCHING...

Detail Record


XML

Anomali Kekalahan Pasangan Jokowi-Ma’ruf di Jawa Barat pada Pemilihan Presiden 2019 (Analisa Jaringan Komunikasi)

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri jaringan komunikasi pasangan Joko Widodo (Jokowi) – KH Ma’ruf Amin dengan aktor-aktor, baik aktor human maupun non-human di Jawa Barat (Jabar) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Dalam penelitian ini penulis menggunakan Actor-Network Theory (ANT) untuk memetakan dan menganalisa jaringan tersebut. ANT menaruh perhatian pada keberadaan aktor non-human dalam sebuah jaringan sosial/komunikasi. Pengaruh aktor non-human ini dilihat dari kemampuannya membentuk keterhubungan dengan aktor lain, yang pada gilirannya dapat membentuk jaringan komunikasi yang lebih luas. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Metode Penelitian Campuran (Mixed Method). Pertama, penulis akan memetakan aktor-aktor secara kuantitatif melalui pemberitaan-pemberitaan di media online. Di mana, hasil dari pemetaan tersebut akan diungkap ke dalam bentuk jaringan yang menunjukkan keterhubungan antar aktor (nodes) melalui jaringan-jaringan (ties) yang terbentuk. Kedua, penulis akan menganalisa jaringan yang terbentuk tersebut secara kualitatif: aktor mana yang menguatkan jaringan dan aktor mana yang menghambat terbentuknya jaringan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, sejumlah aktor yang dilibatkan dalam jaringan komunikasi politik tidak berdampak pada terbentuknya jaringan komunikasi yang lebih luas. Sebab, sejumlah kepala daerah memiliki wakil yang berasal dari partai lawan. Selain itu, sejumlah kepala daerah juga tersangkut kasus korupsi dan terekam memberikan arahan kepada masyarakat untuk memilih Jokowi-Ma’ruf. Adapun, konflik partai koalisi yang disebabkan adanya dualisme kepemimpinan di Partai Golkar, PPP serta PDIP membuat dukungan terhadap pasangan Jokowi-Ma’ruf di Jabar tidak solid. Sementara, kehadiran sosok KH Ma’ruf Amin (Kyai Ma’ruf) di pihak Jokowi tidak memberikan dampak maksimal terhadap keterpilihan pasangan ini di Jabar. Hal ini dikarenakan, ‘gerbong’ NU yang turut terbawa seiring pengangkatan Kyai Ma’ruf sebagai pendamping Jokowi, tidak membuat komunikasi pasangan ini dengan sejumlah kelompok Islam—yang lebih majemuk di Jabar—berjalan mulus. Adapun, insiden pembakaran bendera yang dianggap sebagai bendera HTI turut membuat hubungan pasangan ini dengan kelompok- kelompok Islam di Jabar semakin menjauh. Di lain pihak, upaya Jokowi-Ma’ruf mendekati Bobotoh (supporter Persib Bandung) dengan menggelar deklarasi dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf terlihat ‘memaksakan’ dan justru mendapat respon negatif dari sejumlah tokoh Bobotoh. Selain itu, upaya Jokowi untuk meraih simpati masyarakat Jabar dengan sejumlah kebijkan pembangunan infrastruktur juga menjadi isu tersendiri. Di satu sisi, infrastruktur transportasi yang berhasil dibangun, seperti Bandara Kertajati, belum dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Jawa Barat dan justru dikritik banyak pihak. Sementara, di sisi lain, progress pembangunan infrastruktur lain terhitung lambat, sehingga tidak dapat diklaim sebagai keberhasilan Pemerintahan Jokowi. Di samping itu, sejumlah program pembangunan infrastruktur justru memunculkan isu negatif, seperti kerusakan lingkungan dan isu tenaga kerja asing (TKA) asal China.



Kata kunci: Jaringan Komunikasi, Actor-Network Theory, Pilpres 2019, Jokowi-Ma’ruf, Jawa Barat
Regit Ageng Sulistyo - Personal Name
218122036 - Regit Ageng Sulistyo
Tesis PMK
Indonesia
Universitas Paramadina
2022
Jakarta
226 hlm
LOADING LIST...
LOADING LIST...