Konsep Cinta Diri Menurut Erich Fromm
Erich Fromm merupakan tokoh yang membahas secara mendetail terkait dengan cinta diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cinta diri merupakan suatu sifat yang salah atau tidak. Serta mengetahui cinta diri sama dengan fenomena mementingkan diri atau tidak. Penelitian penulisan ini adalah kualitatif, yang menggunakan corak kajian pustaka atau library research. Penulis mengumpulkan berbagai sumber-sumber yang ada dalam bentuk buku, artikel dan jurnal yang terkait dengan penelitian, terutama pada buku The Art of Loving. Dari berbagai sumber tersebut, penulis akan menjelaskan dan menganalisa sesuai dengan kerangka dan batasan masalah yang telah ditentukan sebelumnya. Sebagai metode analisis data, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitis.
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa cinta diri dengan mementingkan diri merupakan fenomena yang berbeda. Menurut Fromm cinta diri bukan suatu hal yang salah. Cinta diri sendiri merupakan kebajikan, sebab kita sendiri merupakan objek dari cinta. Kita objek dari perasaanperasaan dan sikap kita. Kita objek dari perasaan-perasaan dan sikap kita. Pada intinya, secara mendasar sikap kita dan sikap kita kepada orang lain mempunyai kesinambungan. Cinta diri dan cinta pada orang bukanlah suatu yang harus dipilih. Sebab, cinta terhadap diri sendiri hanya mampu dilakukan oleh mereka yang mampu mencintai orang lain. Lain halnya dengan mementingkan diri, individu yang mementingkan diri hanya memperhatikan dirinya sendiri, melakukan segala sesuatu hanya untuk dirinya. Ia hanya senang menerima, tidak dengan memberi, baginya memberi suatu hal yang merugikan.
Kata Kunci: Erich Fromm, Cinta, Cinta diri.
Daftar Pustaka: 33 (1994 s.d 2022
Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa cinta diri dengan mementingkan diri merupakan fenomena yang berbeda. Menurut Fromm cinta diri bukan suatu hal yang salah. Cinta diri sendiri merupakan kebajikan, sebab kita sendiri merupakan objek dari cinta. Kita objek dari perasaanperasaan dan sikap kita. Kita objek dari perasaan-perasaan dan sikap kita. Pada intinya, secara mendasar sikap kita dan sikap kita kepada orang lain mempunyai kesinambungan. Cinta diri dan cinta pada orang bukanlah suatu yang harus dipilih. Sebab, cinta terhadap diri sendiri hanya mampu dilakukan oleh mereka yang mampu mencintai orang lain. Lain halnya dengan mementingkan diri, individu yang mementingkan diri hanya memperhatikan dirinya sendiri, melakukan segala sesuatu hanya untuk dirinya. Ia hanya senang menerima, tidak dengan memberi, baginya memberi suatu hal yang merugikan.
Kata Kunci: Erich Fromm, Cinta, Cinta diri.
Daftar Pustaka: 33 (1994 s.d 2022
Nyimas Safirna Salsabila Wiharja - Personal Name
118104008 - Nyimas Safirna Salsabila Wiharja
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2022
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...