Advanced Search

  • SEARCHING...
  • SEARCHING...

Detail Record


XML

Pandangan Veganisme Gary Steiner dan Kritiknya Atas Antroposentrisme

Veganisme menjadi sebuah pandangan baru di era kontemporer yang kerap didiskusikan. Pandangan ini memiliki berbagai nilai urgensi, tergantung dari bagaimana seorang penganut veganisme ini berpijak. Misalnya, ada seseorang yang menjadi vegan demi mengurangi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh industri peternakan hewan (lingkungan), menjadi vegan sebab pola makan produk hewani yang dinilai tidak menyehatkan serta menyebabkan berbagai penyakit kardiovaskuler (kesehatan), dan seorang vegan yang berpandangan bahwa hewan memiliki hak kehidupan layaknya manusia, oleh karena itu kita harus menghentikan segala tindakan kita yang selama ini menyiksa serta membunuh hewan (moral). Menjadi vegan sebab alasan moral ini yang menarik untuk diperbincangkan lebih jauh sebab moral atau etika dalam diskursus filsafat membahas pertimbangan-pertimbangan tentang tindakan-tindakan baik atau buruk yang dilakukan manusia. Lantas bagaimana pertimbangan moral dalam topik veganisme ini? Mengingat selama ini memakan atau menggunakan produk hewani menjadi hal yang sangat biasa di masyarakat kita yang menilai hewan memang diciptakan hanya untuk kepuasan manusia.
Gary Steiner, seorang profesor filsafat dari Universitas Bucknell, Pennsylvania yang aktif memberikan ruang diskusi mengenai veganisme. Lewat karya-karyanya, yakni “Anthropocentrism and Its Discontents” (2005), “Animals and the Moral Community: Mental Life, Moral Status, Kinship” (2008), dan “Animals and the Limits of Postmodernism” (2013). Steiner melihat veganisme sebagai suatu pandangan dan tindakan menuju non-antroposentris terhadap hewan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, antroposentrisme oleh Steiner dijelaskan sebagai dampak dari proses pemikiran sejarah filsafat Barat yang pada akhirnya meniadakan hewan dalam lingkup moral. Sebab itu tindakan kekerasan terhadap hewan, seperti mengonsumsi produk hewani, menggunakan tenaga hewan, pengujian produk terhadap hewan, dan segala bentuk eksploitasi hewan dianggap sebagai suatu hal yang biasa oleh kita. Berangkat dari sejarah ini, solusi yang relevan bagi Steiner ialah menolak segala bentuk kekerasan terhadap hewan dengan menjadi vegan etis. Veganisme Steiner dilandasi oleh cita-cita kosmopolitan yang holistik, yakni mengakui kesepadanan atau keseimbangan nilai moral semua entitas didalamnya termasuk non-human animal.

Kata Kunci: Antroposentrisme, Gary Steiner, Hewan, Moral, Veganisme Daftar Pustaka: 78 (1990 s.d 2020)
Nurma Syelin Komala - Personal Name
117104002 - Nurma Syelin Komala
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2020
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...