Advanced Search

  • SEARCHING...
  • SEARCHING...

Detail Record


XML

Kebudayaan Menurut Abdurrahman Wahid (1940-2009)

Relasi kebudayaan dan negara telah menjadi diskursus yang tetap menarik untuk dikaji. Banyak terjadi ketegangan antara kebudayaan dan negara di masa lampau. terkhusus di Indonesia pada masa orde baru. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memotret diskursus kebudayaan di masa-masa itu. Uniknya Gus Dur mendapati banyaknya ketegangan tadi karena pemerintahan kala itu salah memahami bagaimana kebudayaan bekerja.
Penelitian ini berupa penelitian kepustakaan, selain itu metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis diskursus/wacana. Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji pemikiranpemikiran Abdurrahman Wahid tentang diskursus kebudayaan dan negara melalui karya tulisnya yang terpublikasi. Poin-poin yang penting di sini adalah bagaimana diskursuantara kebudayaan dan negara dengan faktor faktor pengaruh lain seperti agama dan politik. Dari sini muncul pertanyaan bagaimana posisi dan fungsi kebudayaan terhadap negara. Apakah sudah final penentu kebudayaan adalah negara atau masyarakat biasa yang mempunyai otoritas tersebut. Dalam pandangan Abdurrahman Wahid, Kebudayaan adalah sesuatu yang luas yang mencakup inti-inti kehidupan suatu masyarakat. Dengan kata lain, kebudayaan adalah kehidupan, yaitu kehidupan sosial manusiawi (human social life) itu sendiri. Bila dihadapkan kepada konsep negara modern, kebudayaan seyogyanya tetap mandiri dengan cara upaya desentralisasi dan demokratisasi. Seringkali kebudayaan hanya merujuk pada produk-produk kesenian kebendaan. Padahal definisi kebudayaan sendiri sangatlah luas dan terus mengalami perubahan. Kalaupun produk kebudayaan seperti kesenian. Haruslah kesenian yang bisa menggali secara penuh potensi manusia dengan keunikan kemanusiaannya. Semisal, kesenian yang mampu memotret dan merefleksikan realitas sosial secara jujur hingga kesenian bisa menjadi alat koreksi dan kritik terhadap penguasa. Adanya upaya penyeragaman kebudayaan pada masa orde baru ditambah faktor semangat agama membuat paradigma masyarakat ikut berubah juga. Olehnya dibutuhkan ruang dialog yang terbuka dan produktif antara penyelenggara negara dan masyarakat guna terwujudnya peradaban yang berbudaya .

Kata Kunci: Kebudayaan, Negara, Abdurrahman Wahid
Daftar Pustaka: 31 (1980-2017)
Faiq Falahi - Personal Name
112104003 - Faiq Falahi
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2019
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...