Analisis Wacana Gerakan Hashtag #2019GANTIPRESIDEN Di Media Sosial Twitter Pada Pemilihan Presiden 2019
Terhubungnya ruang demokrasi di media sosial menjamin hak-hak fundamental setiap orang untuk berekpresi, berkomunikasi, berkumpul, dan berorganisasi, yang dibutuhkan bagi perdebatan politik. Pada Pemilihan Presiden 2019 ini, kita menghadapi gempuran digital democracy lewat media sosial yang membuka ruang publik tidak hanya sebagai ajang kontestasi tetapi juga ruang berdiskusi yang sifanya emansipatoris. Akan tetapi terjadi paradoks di ruang publik, hadirnya wacana gerakan hashtag #2019GantiPresiden memiliki kecenderungan untuk menggiring publik ke dalam narasi-narasi politik yang sifatnya demagog (wacana manipulatif). Pemberitaan isu-isu lewat gerakan #2019GantiPresiden adalah bentuk praktik ideologi yang selalu berkaitan dengan konteks, dimana teks tersebut diproduksi. Sehingga wacana gerakan #2019GantiPresiden bukan suatu yang alamiah, wajar, dan netral tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Ada ideologi subliminal yang perlu dibongkar melalui rangkaian pemberitaan isu yang menyerang struktur sebagai bentuk kritik terhadap Pemerintah. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana struktur wacana gerakan hashtag #2019GantiPresiden yang diukur melalui analisis wacana model Van Dijk yaitu dilihat dari analisis teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library researsch) dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah inisiator gerakan hashtag #2019GantiPresiden dan objek penelitiannya adalah sampel teks dari hashtag #2019GantiPresiden. Teknik pengumpulan data dengan teknik observasi pada teks yang termuat dalam lima sampel akun twitter pada periode maret 2018 sampai desember 2018. Sementara teknik analisis data berdasarkan teori wacana Teun A Van Dijk yaitu salah satu model yang memandang bahasa berkaitan dengan kekuasaan, ideologi, serta politik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ideologi subliminal melayani kepentingan politik kubu oposisi untuk menggoyahkan kemapanan sebuah rezim. Dari segi teks wacana gerakan #2019GantiPresiden banyak menyiratkan ekspresi perlawanan suatu kuasa yang memuat demagog yang berisi metafora sebagai bahasa politik yang akan menggiring opini publik lewat permainan isu dan desas-desus, pesan kebencian yang sifatnya menghasut dan mengabaikan kebenaran-kebenaran terkait permasalahan tertentu. Dari segi kognisi sosial, ada pertarungan kekuasaan yang ditunggangi motif politik oleh PKS dan kelompok konservatif yang mengusung gerakan fundamentalisme Islam. Pertarungan kekuasaan itu dibuktikan dengan menguatnya ideologi perlawanan kubu konservatif dibalik gerakan #2019GantiPresiden yang menyatukan kubu oposisi terhadap kekuatan nasionalis Jokowi sebagai kubu petahana. Segi konteks sosial, wacana gerakan #2019GantiPresiden telah memicu konflik horizontal ditengah masyarakat Hal tersebut diperkuat banyaknya informasi dari wacana gerakan #2019GantiPresiden tidak berdasarkan fakta (disinformasi) yang tersisa hanya retorika politik yang mengarahkan “kebenaran” berdasarkan kepercayaannya yang mengakibatkan kecurigaan-kecurigaan satusama lain. Saran penelitian adalah para elit politik kubu oposisi sebaiknya menyajikan argumentasi yang kuat dan logis dalam mengkritik pemerintah di media sosial tanpa selalu menyederhanakan masalah dengan tanda hashtag. Sebaliknya kubu petahana pun tidak bersikap destruktif dalam merespon dinamika politik terhadap resistensi yang datang dari civil society agar bisa menjamin hak-hak fundamental mereka dalam berdemokrasi.
Kata Kunci: Wacana, Media Sosial, Ideologi
Kata Kunci: Wacana, Media Sosial, Ideologi
Syarif Hidayatullah - Personal Name
217122010 - Syarif Hidayatullah
Tesis PMK
Indonesia
Universitas Paramadina
2019
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...