Mitologisasi Lagu Lingsir Wengi Karya Rizal Mantovani Dalam Perspektif Semiologi Roland Barthes
Andi Muhammad Amar Ma‟ruf / 113104004
Mitologisasi Lagu Lingsir Wengi Karya Rizal Mantovani Dalam Perspektif Semiologi Roland
Barthes
Mitologisasi merupakan proses ilmu untuk mengetahui/mendeteksi sebuah mitos. Di dalam penelitian ini fokus peneliti adalah untuk mengetahui dan mendeteksi cara sebuah mitos bekerja pada lirik lagu lingsir wengi. Dimana dibalik lirik lagu tersebut terdapat makna/pesan yang pencipta buat untuk diperdengarkan kepada pendengar melalui film kuntilanak sebagai medianya. Pada lirik lagu lingsir wengi, pesan yang disampaikan menggunakan kata dan bahasa yang mengandung ambiguitas serta terdapat unsur tradisi di dalamnya. Penelitian ini berfokus pada mitologisasi/proses sebuah lagu berubah menjadi sebuah mitos. Penelitian ini termasuk dalam pendekatan kualitatif, menggunakan metode deskriptif analitis dalam penjabarannya, dan juga menggunakan semiologi sebagai pisau analisanya untuk mengetahui makna dari pesan-pesan dalam teks lagu lingsir wengi tersebut. Metode analisa semiologi yang digunakan berangkat dari teori yang dikemukakan oleh Roland Barthes tentang sistem penandaan. Sistem penandaan Roland Barthes terbagi atas 2(dua) yaitu, sistem linguistik dan sistem mitos. Dimana didalam sistem tersebut terdapat 3(sistem) penting pembentuk makna yaitu, signifier (penanda), signified (petanda), sign (tanda).
Berangkat dari hal tersebut, hasil penelitian ini mengungkapkan sebagai berikut: 1) Mitologisasi dalam perspektif Roland Barthes, menjelaskan tentang proses mitos yang mewakili setiap baris dari lirik lagu lingsir wengi. Hasilnya, Lagu lingsir wengi merubah persepsi masyarakat yang pernah menonton film Kuntilanak. Dimana mayoritas orang mengetahui bahwa pada film Kuntilanak, seseorang menyanyikan lagu ini dengan pendukung latar suara dan latar tempat yang bernuansa mistis membangun ketegangan penonton. Kata lingsir wengi merupakan kata yang paling pertama diucapkan dan mudah diingat pada lagu dalam Film tersebut. Maka dengan begitu mereka/masyarakat lebih berasumsi dan lebih mengingat kata lingsir wengi sebagai sebuah mantra pemanggil makhluk gaib/kuntilanak. Sehingga pada akhirnya kata lingsir wengi berubah menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol gaib yang secara alamiah menyebar ke lapisan masyarakat. Padahal jika kita telusuri, kata ini dalam bahasa jawa artinya “menjelang malam”, sama sekali tidak memiliki keterkaitan terhadap panggilan pada makhluk gaib. Pada akhirnya, kata “lingsir wengi” ini dianggap sebagai sebuah mitos karena menjadi simbol yang diyakini sebagai “mantra pemanggil kuntilanak” dalam film Kuntilanak tersebut.
Kata Kunci : Mitologisasi, Lirik Lagu, Pesan, Makna, Semiologi Roland Barthes, Tradisi
Daftar Pustaka : 1 Lagu, 1 Film, 1 Puisi, 1 Doa, 20 Buku, 3 Jurnal Online, 4 Situs Web
Jumlah Halaman : 65 halaman skripsi, 11 gambar
Mitologisasi Lagu Lingsir Wengi Karya Rizal Mantovani Dalam Perspektif Semiologi Roland
Barthes
Mitologisasi merupakan proses ilmu untuk mengetahui/mendeteksi sebuah mitos. Di dalam penelitian ini fokus peneliti adalah untuk mengetahui dan mendeteksi cara sebuah mitos bekerja pada lirik lagu lingsir wengi. Dimana dibalik lirik lagu tersebut terdapat makna/pesan yang pencipta buat untuk diperdengarkan kepada pendengar melalui film kuntilanak sebagai medianya. Pada lirik lagu lingsir wengi, pesan yang disampaikan menggunakan kata dan bahasa yang mengandung ambiguitas serta terdapat unsur tradisi di dalamnya. Penelitian ini berfokus pada mitologisasi/proses sebuah lagu berubah menjadi sebuah mitos. Penelitian ini termasuk dalam pendekatan kualitatif, menggunakan metode deskriptif analitis dalam penjabarannya, dan juga menggunakan semiologi sebagai pisau analisanya untuk mengetahui makna dari pesan-pesan dalam teks lagu lingsir wengi tersebut. Metode analisa semiologi yang digunakan berangkat dari teori yang dikemukakan oleh Roland Barthes tentang sistem penandaan. Sistem penandaan Roland Barthes terbagi atas 2(dua) yaitu, sistem linguistik dan sistem mitos. Dimana didalam sistem tersebut terdapat 3(sistem) penting pembentuk makna yaitu, signifier (penanda), signified (petanda), sign (tanda).
Berangkat dari hal tersebut, hasil penelitian ini mengungkapkan sebagai berikut: 1) Mitologisasi dalam perspektif Roland Barthes, menjelaskan tentang proses mitos yang mewakili setiap baris dari lirik lagu lingsir wengi. Hasilnya, Lagu lingsir wengi merubah persepsi masyarakat yang pernah menonton film Kuntilanak. Dimana mayoritas orang mengetahui bahwa pada film Kuntilanak, seseorang menyanyikan lagu ini dengan pendukung latar suara dan latar tempat yang bernuansa mistis membangun ketegangan penonton. Kata lingsir wengi merupakan kata yang paling pertama diucapkan dan mudah diingat pada lagu dalam Film tersebut. Maka dengan begitu mereka/masyarakat lebih berasumsi dan lebih mengingat kata lingsir wengi sebagai sebuah mantra pemanggil makhluk gaib/kuntilanak. Sehingga pada akhirnya kata lingsir wengi berubah menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol gaib yang secara alamiah menyebar ke lapisan masyarakat. Padahal jika kita telusuri, kata ini dalam bahasa jawa artinya “menjelang malam”, sama sekali tidak memiliki keterkaitan terhadap panggilan pada makhluk gaib. Pada akhirnya, kata “lingsir wengi” ini dianggap sebagai sebuah mitos karena menjadi simbol yang diyakini sebagai “mantra pemanggil kuntilanak” dalam film Kuntilanak tersebut.
Kata Kunci : Mitologisasi, Lirik Lagu, Pesan, Makna, Semiologi Roland Barthes, Tradisi
Daftar Pustaka : 1 Lagu, 1 Film, 1 Puisi, 1 Doa, 20 Buku, 3 Jurnal Online, 4 Situs Web
Jumlah Halaman : 65 halaman skripsi, 11 gambar
Andi Muhammad Amar Ma'ruf - Personal Name
113104004 - Andi Muhammad Amar Ma‟ruf
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2018
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...