Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat Pivot to Asia Terhadap Peningkatan Kekuatan Militer Tiongkok (2009-2013)
Abstrak
Dalam skripsi ini membahas mengenai kebijakan luar negeri Amerika Serikat Pivot to Asia terhadap peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Kekuatan militer Tiongkok yang mengalami banyak peningkatan mulai dari angkatan bersenjata, anggaran belanja militer, peralatan militer, sampai pelatihan militer telah menimbulkan kekhawatiran bagi Amerika Serikat sehingga menjadikan peningkatan kekuatan militer Tiongkok sebagai salah satu fokus dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Hal tersebut dibuktikan ketika masa pemerintahan Presiden Barack Obama pada tahun 2009 mulai merumuskan kebijakan luar negeri Pivot to Asia. Kebijakan luar negeri tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas hegemoni Amerika Serikat di kawasan Asia terlebih dengan adanya peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Kemudian, dalam menganalisa permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan paradigma neorealisme dengan menggabungkan teori dan konsep yang merupakan turunan dari paradigma neorealisme seperti hedging strategy, konsep kebijakan luar negeri, hegemonic stability,security dilemma, dan politik internasional. Hasil temuan dalam penelitian ini antara lain: Pertama, kebijakan luar negeri Amerika Serikat Pivot to Asia memiliki dua prioritas utama yang menggambar hedging strategy di dalamnya yaitu balancing dan engagement. Dua prioritas utama tersebut digunakan oleh Amerika Serikat salah satunya untuk menghadapi peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Kedua, balancing diimplementasikan Amerika Serikat dengan melakukan penguatan kerjasama pertahanan dengan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Engagement diimplementasikan Amerika Serikat dengan tetap melakukan kerjasama pertahanan dengan Tiongkok walaupun Amerika Serikat sedang berusaha menahan peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Ketiga, kebijakan luar negeri Amerika Serikat tersebut menimbulkan respon dari Tiongkok berupa kerjasama pertahanan dengan Rusia dan peningkatan tindakan militer Tiongkok di Kepulauan Senkaku. Dengan demikian, kondisi sistem internasional yang anarki dan kompetitif yang menyebabkan diantara kedua negara muncul mispersepsi dan persaingan karena adanya ketidakpastian dan kekhawatiran dari masing-masing negara.
Kata Kunci : Amerika Serikat, Tiongkok, Kebijakan Luar Negeri, Pivot to Asia, Hedging Strategy
Daftar Pustaka : 17 Buku (1962-2015), 51 Jurnal Online (1976-2016), 12 Dokumen dan Laporan (2007-2016), 11 Skripsi dan Tesis (2004-2015), 27 Artikel Berita Online dan Website (2009-2016).
Dalam skripsi ini membahas mengenai kebijakan luar negeri Amerika Serikat Pivot to Asia terhadap peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Kekuatan militer Tiongkok yang mengalami banyak peningkatan mulai dari angkatan bersenjata, anggaran belanja militer, peralatan militer, sampai pelatihan militer telah menimbulkan kekhawatiran bagi Amerika Serikat sehingga menjadikan peningkatan kekuatan militer Tiongkok sebagai salah satu fokus dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Hal tersebut dibuktikan ketika masa pemerintahan Presiden Barack Obama pada tahun 2009 mulai merumuskan kebijakan luar negeri Pivot to Asia. Kebijakan luar negeri tersebut bertujuan untuk menjaga stabilitas hegemoni Amerika Serikat di kawasan Asia terlebih dengan adanya peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Kemudian, dalam menganalisa permasalahan dalam penelitian ini, penulis menggunakan paradigma neorealisme dengan menggabungkan teori dan konsep yang merupakan turunan dari paradigma neorealisme seperti hedging strategy, konsep kebijakan luar negeri, hegemonic stability,security dilemma, dan politik internasional. Hasil temuan dalam penelitian ini antara lain: Pertama, kebijakan luar negeri Amerika Serikat Pivot to Asia memiliki dua prioritas utama yang menggambar hedging strategy di dalamnya yaitu balancing dan engagement. Dua prioritas utama tersebut digunakan oleh Amerika Serikat salah satunya untuk menghadapi peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Kedua, balancing diimplementasikan Amerika Serikat dengan melakukan penguatan kerjasama pertahanan dengan Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Engagement diimplementasikan Amerika Serikat dengan tetap melakukan kerjasama pertahanan dengan Tiongkok walaupun Amerika Serikat sedang berusaha menahan peningkatan kekuatan militer Tiongkok. Ketiga, kebijakan luar negeri Amerika Serikat tersebut menimbulkan respon dari Tiongkok berupa kerjasama pertahanan dengan Rusia dan peningkatan tindakan militer Tiongkok di Kepulauan Senkaku. Dengan demikian, kondisi sistem internasional yang anarki dan kompetitif yang menyebabkan diantara kedua negara muncul mispersepsi dan persaingan karena adanya ketidakpastian dan kekhawatiran dari masing-masing negara.
Kata Kunci : Amerika Serikat, Tiongkok, Kebijakan Luar Negeri, Pivot to Asia, Hedging Strategy
Daftar Pustaka : 17 Buku (1962-2015), 51 Jurnal Online (1976-2016), 12 Dokumen dan Laporan (2007-2016), 11 Skripsi dan Tesis (2004-2015), 27 Artikel Berita Online dan Website (2009-2016).
Chika Dewi - Personal Name
113105021 - Chika Dewi
Skripsi PHI
Indonesia
Universitas Paramadina
2017
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...