Perbandingan Pemikiran Muhammad Iqbal ( 1877 - 1938 ) dan Ali Syari'ati (1933 - 1977) Tentang Konsep Manusia
Abstrak
Masalah manusia senantiasa aktual untuk dikaji. Bila kita mempelajari manusia dengan berusaha melihat semua dimensinya guna memahami apa yang paling mendasar dan paling menyeluruh dalam dirinya. Manusia selalu tampak sebagai makhluk yang “paradoksal” dan penuh kontras. Ia terbatas dan sekaligus terbuka pada kenyataan yang tidak terbatas, terkondisikan dan bebas, kodrati dan budayani, individual dan sosial, fisik dan rohani. Karenamanusiamemilikidimensigandatersebutlah, manusiasulitmencapaikesempurnaan yang selalu didambakannya. Sehingga wajarlah jika kita menemukan banyak pemikir besar dunia, baik di Barat maupun di Timur, yang memberi konsen terhadap masalah ini. Masalah manusia inipun mendapat perhatian khusus dari Muhammad Iqbal dan Ali Syari’ati. Konsep manusia yang dimiliki Iqbal dan Syari’ati memiliki beberapa kesamaan, meskipun tentu saja ada perbedaan-perbedaan di antara keduanya dalam memahami manusia. Kesamaan itu bisa kita lihat misalnya, dari terminologi yang keduanya pakai. Iqbal mengatakan bahwa manusia memiliki dua dimensi, dimensi jasmani dan ruhani. Dimensi jasmani sebagai tempat tinggal sementara, dan dimensi ruhani sebagai realitas hakiki yang menempati jasmani. Di lain sisi, terminology serupa juga dipakai oleh Syari’ati, meskipun terminologi yang dipakai tidak persis sama. Syari’ati membagi manusia kepada dua dimensi, dimensi jasad dan ruh. LebihlanjutSyari’atimenyebutmanusiasebagairealitadialektiskemudianfenomenadialektis. Jasadsebagaidimensi yang sifatnyakotordanhina, yang berasaldaritanahbusuk. Sedangkan ruh, bersifat bersih dan suci juga berasa dari ruh Allah. Ang berbeda Walaupun keduanya memksi terminology yang berbeda penulis menangkap kesamaan diantara keduanya. Lebih lanjut iqbal melihat manusia sebagai ego kecil, yang selal mencapai ego besar. manusia selalu bergerak menuju Tuhan untuk mencapai kesempurnaan. Jadi kia tahu trminologi insan kamil berarti manusia sempurna. Dari syariati kita mengenal terminogi basyar, Insan bagi syariati adalah konep basyar yang special, karena ia selalu berada selalu dalam kondisi menjadi. Dia tidak pernah stagnan berbeda dengan basyar yang hanya ”berada”. Manusia selalu bergerak menuju kesempurnaan. Syariati lebih lanjut menyebutnya sebagai manusia teomorfis ideal, yakni manusia yang selalu bergerak menuju Tuhan demi kesmpurnaan.
Kata kunci: Manusia, Muhammad Iqbal, Ali syariati
Masalah manusia senantiasa aktual untuk dikaji. Bila kita mempelajari manusia dengan berusaha melihat semua dimensinya guna memahami apa yang paling mendasar dan paling menyeluruh dalam dirinya. Manusia selalu tampak sebagai makhluk yang “paradoksal” dan penuh kontras. Ia terbatas dan sekaligus terbuka pada kenyataan yang tidak terbatas, terkondisikan dan bebas, kodrati dan budayani, individual dan sosial, fisik dan rohani. Karenamanusiamemilikidimensigandatersebutlah, manusiasulitmencapaikesempurnaan yang selalu didambakannya. Sehingga wajarlah jika kita menemukan banyak pemikir besar dunia, baik di Barat maupun di Timur, yang memberi konsen terhadap masalah ini. Masalah manusia inipun mendapat perhatian khusus dari Muhammad Iqbal dan Ali Syari’ati. Konsep manusia yang dimiliki Iqbal dan Syari’ati memiliki beberapa kesamaan, meskipun tentu saja ada perbedaan-perbedaan di antara keduanya dalam memahami manusia. Kesamaan itu bisa kita lihat misalnya, dari terminologi yang keduanya pakai. Iqbal mengatakan bahwa manusia memiliki dua dimensi, dimensi jasmani dan ruhani. Dimensi jasmani sebagai tempat tinggal sementara, dan dimensi ruhani sebagai realitas hakiki yang menempati jasmani. Di lain sisi, terminology serupa juga dipakai oleh Syari’ati, meskipun terminologi yang dipakai tidak persis sama. Syari’ati membagi manusia kepada dua dimensi, dimensi jasad dan ruh. LebihlanjutSyari’atimenyebutmanusiasebagairealitadialektiskemudianfenomenadialektis. Jasadsebagaidimensi yang sifatnyakotordanhina, yang berasaldaritanahbusuk. Sedangkan ruh, bersifat bersih dan suci juga berasa dari ruh Allah. Ang berbeda Walaupun keduanya memksi terminology yang berbeda penulis menangkap kesamaan diantara keduanya. Lebih lanjut iqbal melihat manusia sebagai ego kecil, yang selal mencapai ego besar. manusia selalu bergerak menuju Tuhan untuk mencapai kesempurnaan. Jadi kia tahu trminologi insan kamil berarti manusia sempurna. Dari syariati kita mengenal terminogi basyar, Insan bagi syariati adalah konep basyar yang special, karena ia selalu berada selalu dalam kondisi menjadi. Dia tidak pernah stagnan berbeda dengan basyar yang hanya ”berada”. Manusia selalu bergerak menuju kesempurnaan. Syariati lebih lanjut menyebutnya sebagai manusia teomorfis ideal, yakni manusia yang selalu bergerak menuju Tuhan demi kesmpurnaan.
Kata kunci: Manusia, Muhammad Iqbal, Ali syariati
Usturi - Personal Name
207000206 - Usturi
SKRIPSI FA
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2017
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...