Advanced Search

  • SEARCHING...
  • SEARCHING...

Detail Record


XML

Proses Komunikasi Antar Budaya Mahasiswa Perantauan dalam Menghadapi Culture Shock

96 Halaman + ix, 4 gambar, 3 lampiran

Latar Belakang: Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan kebudayaan yang pesat, kebudayaan menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam kelanjutan suatu hubungan. Latarbelakang budaya yang dimiliki seseorang menjadi pengaruh yang besar karena di dalamnya terdapat sikap dan ciri-ciri khusus yang berbeda tergantung daerahnya masing masing. Munculnya noise/gangguan dapat terjadi dalam berkomunikasi. Noise tersebut akrab di telinga kita dengan istilah culture shock. Rumusan Masalah: Bagaimana proses komunikasi antarbudaya mahasiswa perantauan dalam menghadapi culture shock. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui proses komunikasi antarbudaya mahasiswa perantauan Sumatera Barat dan Aceh dalam menghadapi culture shock. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan sifat penelitian deskriptif. Informant dalam penelitian berjumlah dua orang yaitu informant berasal dari Sumatera Barat dan Aceh. Hasil Penelitian: Cara mahsiswa perantauan dalam berinteraksi terhadap lingkungan baru tergantung pada diri sendiri dan pengalaman yang ia punya saat masih berada di kampung halaman. Peneliti juga menemukan fakta bahwa mahasiswa perantauan yang berasal dari kota Aceh membutuhkan waktu yang lebih lama dalam beradaptasi terhadap lingkungan baru dibandingkan dengan mahasiswa perantauan dari kota Sumatera Barat. Pada tahapan perbedaan persepsi, mahasiswa perantauan cenderung merasa minder dan takut salah ketika melakukan komunikasi dengan budaya baru, pada hambatan bahasa dan pengalaman kedua mahasiswa perantauan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam beradaptasi, pada strategi adaptasi peneliti melihat bahwa kedua mahasiswa sudah dapat menyesuaikan diri dengan baik. Kesimpulan: Proses komunikasi mahasiswa perantauan dalam menghadapi culture shock terhadap Benny Kurniawan dan Reza Saputra yaitu BK lebih cepat beradaptasi di lingkungan baru dibandingkan RS. Hal ini dikarenakan BK memiliki pengalaman lebih mirip dengan budaya baru yang menjadi tempat tinggalnya untuk sementara waktu. Sementara perantauan RS membutuhkan waktu yang lebih lama dalam menghadapi culture shock sebagai mahasiswa perantauan, dikarenakan RS yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap langsung di ibu kota Jakarta.

Kata Kunci: Kualitatif, Komunikasi Antarbudaya, Culture Shock, Mahasiswa Perantauan, Sumatera Barat, Aceh.
Jumlah Literatur: 23 Buku (2002-2013), 4 Jurnal, 2 Website
Win Adrisi - Personal Name
114106086 - Win Adrisi
Skripsi PIK
Indonesia
Universitas Paramadina
2016
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...