Strategi Amerika Serikat dalam Memerangi Gerakan ISIS (ISlamic State of Iraq and Syria) di Irak dan Suriah (2014-2015)
Penelitian ini berupaya untuk menggambarkan dan menganalisa strategi yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk memerangi gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dengan demikian, penelitian ini juga berupaya untuk menganalisa apa yang menjadi faktor pendukung dan penghambat dari strategi yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk memerangi gerakan ISIS.
Pada tahun 2014 terorisme kembali menjadi isu yang menjadi perhatian komunitas internasional. Hal itu ditandai dengan kemunculan gerakan ISIS di Irak dan Suriah. ISIS dapat dipandang sebagai sebuah transformasi gerakan terorisme karena memiliki akar yang berasal dari gerakan terorisme al-Qaeda namun berbeda pada tingkatan filosofi normatif dan tingkatan implementasi, yaitu dimana ISIS menitikberatkan pergerakannya secara nyata untuk mendirikan negara Islam melalui cara-cara kekerasan dan brutal. Transformasi tersebut mengundang perhatian komunitas internasional terutama Amerika Serikat selaku negara adi daya yang mencetuskan agenda perang melawan terorisme global. Amerika Serikat merancang dan melakukan pendekatan yang berbeda untuk memerangi ISIS. Mulai dari pembentukan koalisi multilateral, bantuan pelatihan dan persenjataan, hingga melakukan serangan udara, menjadi rangkaian dari strategi Amerika Serikat untuk dapat menghancurkan pergerakan dan pengaruh politik ISIS di Irak dan Suriah. Namun demikian, strategi tersebut juga menandakan bahwa Amerika Serikat masih menaruh perhatian dan kepentingan yang sangat besar terhadap kawasan Timur Tengah, Irak, Suriah dan isu terorisme. Begitu juga bahwa strategi tersebut dapat dilihat sebagai cara yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk mempertahankan stabilitas hegemoninya (Hegemony Stability) di kawasan Timur Tengah.
Dengan menggunakan teori Neorealis, penelitian ini juga memberikan analisis terhadap bagaimana sistem anarkis juga mampu mengidentifikasi aktor non-negara sebagai aktor yang diperhitungkan dapat politik internasional. ISIS sebagai aktor non-negara memiliki kemampuan untuk menggeser persepsi ancaman Amerika Serikat dan koalisi multilateral. Artinya, ISIS mampu menciptakan kondisi Security Dilemma bagi aktor-aktor negara. Begitu juga dengan Amerika Serikat yang turut melabeli ISIS sebagai gerakan teroris karena mengancam kepentingannya di kawasan Timur Tengah. Kemunculan ISIS juga menandakan bahwa Perang Asimetris yang dilakukan oleh Amerika Serikat belum dipastikan keberakhirannya, sehingga menjadikan agenda perang melawan terorisme global dapat menjadi instrumen yang cukup ampuh untuk mempertahankan nilai-nilai yang diciptakan oleh Amerika Serikat untuk menanamkan pengaruh politiknya di kawasan Timur Tengah.
Kata Kunci: Strategi Amerika Serikat, ISIS, Terrorisme, Hegemony Stability, Security Dilemma, Perang Asimetris.
Daftar pustaka : 21 Buku, 6 Jurnal , 87 Website, 2 Dokumen Online
Pada tahun 2014 terorisme kembali menjadi isu yang menjadi perhatian komunitas internasional. Hal itu ditandai dengan kemunculan gerakan ISIS di Irak dan Suriah. ISIS dapat dipandang sebagai sebuah transformasi gerakan terorisme karena memiliki akar yang berasal dari gerakan terorisme al-Qaeda namun berbeda pada tingkatan filosofi normatif dan tingkatan implementasi, yaitu dimana ISIS menitikberatkan pergerakannya secara nyata untuk mendirikan negara Islam melalui cara-cara kekerasan dan brutal. Transformasi tersebut mengundang perhatian komunitas internasional terutama Amerika Serikat selaku negara adi daya yang mencetuskan agenda perang melawan terorisme global. Amerika Serikat merancang dan melakukan pendekatan yang berbeda untuk memerangi ISIS. Mulai dari pembentukan koalisi multilateral, bantuan pelatihan dan persenjataan, hingga melakukan serangan udara, menjadi rangkaian dari strategi Amerika Serikat untuk dapat menghancurkan pergerakan dan pengaruh politik ISIS di Irak dan Suriah. Namun demikian, strategi tersebut juga menandakan bahwa Amerika Serikat masih menaruh perhatian dan kepentingan yang sangat besar terhadap kawasan Timur Tengah, Irak, Suriah dan isu terorisme. Begitu juga bahwa strategi tersebut dapat dilihat sebagai cara yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk mempertahankan stabilitas hegemoninya (Hegemony Stability) di kawasan Timur Tengah.
Dengan menggunakan teori Neorealis, penelitian ini juga memberikan analisis terhadap bagaimana sistem anarkis juga mampu mengidentifikasi aktor non-negara sebagai aktor yang diperhitungkan dapat politik internasional. ISIS sebagai aktor non-negara memiliki kemampuan untuk menggeser persepsi ancaman Amerika Serikat dan koalisi multilateral. Artinya, ISIS mampu menciptakan kondisi Security Dilemma bagi aktor-aktor negara. Begitu juga dengan Amerika Serikat yang turut melabeli ISIS sebagai gerakan teroris karena mengancam kepentingannya di kawasan Timur Tengah. Kemunculan ISIS juga menandakan bahwa Perang Asimetris yang dilakukan oleh Amerika Serikat belum dipastikan keberakhirannya, sehingga menjadikan agenda perang melawan terorisme global dapat menjadi instrumen yang cukup ampuh untuk mempertahankan nilai-nilai yang diciptakan oleh Amerika Serikat untuk menanamkan pengaruh politiknya di kawasan Timur Tengah.
Kata Kunci: Strategi Amerika Serikat, ISIS, Terrorisme, Hegemony Stability, Security Dilemma, Perang Asimetris.
Daftar pustaka : 21 Buku, 6 Jurnal , 87 Website, 2 Dokumen Online