Konsep Kebahagiaan Menurut Kuntowijoyo dalam Novel Khotbah di Atas Bukit
Pandangan ketidaksederajatnya manusia, khususnya antara laki-laki dan perempuan, sudah lama ada. Memandang rendah atas perempuan, menjadikan perempuan sebagai pelengkap kehidupan laki-laki merupakan sesuatu hal yang biasa. Sejarah dan diskursus tentang tafsir perempuan sudah lama ada. Tafsir yang bersinggungan langsung dengan teksteks suci agama, membentuk pemahaman tentang laki-laki dan perempuan.
Islam diturunkan oleh Allah kepada umat manusia sebagai rahmatan lil „alamin. Hubungan antara manusia dalam Islam didasarkan pada prinsip kesetaraan, persaudaraan, dan kemaslahatan. Kesetaraan gender dalam Islam telah melalui proses yang panjang dan dinamis. Islam sebagai salahsatu agama, bersinggungan dengan wacana aktual ini, apalagi jika dikaitkan dengan penafsiran atas ayat-ayat gender di dalam al-Qur‟an.
Masalah pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana kebahagiaan menurut Kuntowijoyo yang terdapat di dalam novel KDAB (Khotbah di Atas Bukit). Skripsi ini bercorak library research dengan metodologi struktural dan hermeneutik. Pendekatan yang penulis gunakan lebih kepada sufistik khususnya tasawuf falsafi.
Kebahagiaan adalah pembicaraan yang penting untuk dibahas, dan masih belum selesai dibicarakan karena terkait kepada kecendrungan masing-masing. Secara umum kebahagiaan adalah kesenangan, ketentraman, keadaan/perasaan senang dan tentram (bebas dari segala hal yang menyusahkan). Dalam Islam kebahagiaan (sa‟adah) merupakan kebahagiaan mendasar, yang merupakan kebahagiaan dan rahmat besar yang abadi. Di mana bentuk kebahagiaan tersebut mengarah kepada perjumpaan dengan Tuhan. Hal ini dikhususkan terutama bagi mereka yang patuh, dan tunduk kepada ajaran dan larangan yang sudah digariskan Islam. Kebahagiaan (sa‟adah) berhubungan dengan dua dimensi, Akhirat (ukhrawiyah) dan Dunia (dunyawiyah). Bagi Kuntowijoyo kebahagiaan tertinggi adalah kebahagiaan spiritual, dimana tidak membutuhkan suatu apapun di luar kebahagiaan itu sendiri.
Kuntowijoyo dengan kecendrungan sastra sufistik dan gagasan sastra transendennya, menjadikan novel KDAB sarat dengan unsur spiritual yang kental. Fenomena keringnya spiritualitas orang perkotaan, tertuang dalam sebuah novel bergaya tasawuf dengan renungan kerohanian yang mendalam.
Di dalam skripsi ini ditelusuri tahapan kebahagiaan yang diekspresikan ke dalam alur cerita novel. Dengan melihat cerita dalam novel, Kuntowijoyo menjelaskan tahapan kebahagiaan menjadi lima: fisik, intelektual, estetik, moral dan spiritual. Spiritual menjadi tahapan akhir, karena merupakan sebuah pencapaian tertinggi bagi manusia.
Tema di atas cukup relevan untuk dikaji, mengingat perkembangan zaman seperti sekarang ini telah menggeser visi manusia kepada hal-hal materi. Oleh karena itu kebahagiaan hidup sukar didapat dan kehampaan batin kerap menyergap. Visi ketuhanan, adalah corong manusia untuk dapat menelusuri makna hidupnya, tanpa itu fenomena di atas sudah pasti menjadi garansi yang akan didapat. Semoga saja skripsi ini menjadi media pengingat kepada manusia kan visi hidupnya yakni hidup dalam telaga cinta Ilahi.
Kata Kunci: Kebahagiaan, Diskursus, Spiritual.
Islam diturunkan oleh Allah kepada umat manusia sebagai rahmatan lil „alamin. Hubungan antara manusia dalam Islam didasarkan pada prinsip kesetaraan, persaudaraan, dan kemaslahatan. Kesetaraan gender dalam Islam telah melalui proses yang panjang dan dinamis. Islam sebagai salahsatu agama, bersinggungan dengan wacana aktual ini, apalagi jika dikaitkan dengan penafsiran atas ayat-ayat gender di dalam al-Qur‟an.
Masalah pokok dalam skripsi ini adalah bagaimana kebahagiaan menurut Kuntowijoyo yang terdapat di dalam novel KDAB (Khotbah di Atas Bukit). Skripsi ini bercorak library research dengan metodologi struktural dan hermeneutik. Pendekatan yang penulis gunakan lebih kepada sufistik khususnya tasawuf falsafi.
Kebahagiaan adalah pembicaraan yang penting untuk dibahas, dan masih belum selesai dibicarakan karena terkait kepada kecendrungan masing-masing. Secara umum kebahagiaan adalah kesenangan, ketentraman, keadaan/perasaan senang dan tentram (bebas dari segala hal yang menyusahkan). Dalam Islam kebahagiaan (sa‟adah) merupakan kebahagiaan mendasar, yang merupakan kebahagiaan dan rahmat besar yang abadi. Di mana bentuk kebahagiaan tersebut mengarah kepada perjumpaan dengan Tuhan. Hal ini dikhususkan terutama bagi mereka yang patuh, dan tunduk kepada ajaran dan larangan yang sudah digariskan Islam. Kebahagiaan (sa‟adah) berhubungan dengan dua dimensi, Akhirat (ukhrawiyah) dan Dunia (dunyawiyah). Bagi Kuntowijoyo kebahagiaan tertinggi adalah kebahagiaan spiritual, dimana tidak membutuhkan suatu apapun di luar kebahagiaan itu sendiri.
Kuntowijoyo dengan kecendrungan sastra sufistik dan gagasan sastra transendennya, menjadikan novel KDAB sarat dengan unsur spiritual yang kental. Fenomena keringnya spiritualitas orang perkotaan, tertuang dalam sebuah novel bergaya tasawuf dengan renungan kerohanian yang mendalam.
Di dalam skripsi ini ditelusuri tahapan kebahagiaan yang diekspresikan ke dalam alur cerita novel. Dengan melihat cerita dalam novel, Kuntowijoyo menjelaskan tahapan kebahagiaan menjadi lima: fisik, intelektual, estetik, moral dan spiritual. Spiritual menjadi tahapan akhir, karena merupakan sebuah pencapaian tertinggi bagi manusia.
Tema di atas cukup relevan untuk dikaji, mengingat perkembangan zaman seperti sekarang ini telah menggeser visi manusia kepada hal-hal materi. Oleh karena itu kebahagiaan hidup sukar didapat dan kehampaan batin kerap menyergap. Visi ketuhanan, adalah corong manusia untuk dapat menelusuri makna hidupnya, tanpa itu fenomena di atas sudah pasti menjadi garansi yang akan didapat. Semoga saja skripsi ini menjadi media pengingat kepada manusia kan visi hidupnya yakni hidup dalam telaga cinta Ilahi.
Kata Kunci: Kebahagiaan, Diskursus, Spiritual.
Sholahudin - Personal Name
210000255 - Sholahudin
SKRIPSI FA
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2015
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...