Konstruksi Kepemimpinan Perempuan dalam Media Feminis (Studi atas Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi)
Tesis ini dititiktekankan pada pembahasan mengenai konstruksi media perempuan tentang kepemimpinan perempuan di Indonesia. Kontruksi media ini terutama diwakili oleh para pekerja media (wartawan, penulis, kontributor) mengenai perspektif mereka terhadap masalah kepemimpinan perempuan terutama di ruang publik. Bagaimana kiprah dan dialektika kepemimpinan perempuan selama ini di framing oleh media feminis (Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi).
Adapun kerangka teori yang dipakai adalah teks yang ada pada naskah berita dari media dengan teori ideologi dan hegemoni media yang diintertekstualitaskan dengan produksi dan konsumsi teks serta sosial budaya pers yang ada di Indonesia. Hal ini dipakai sebagai upaya membongkar ideologi yang dipakai oleh kedua media tersebut.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedua media; yakni Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi menyebarkan ideologi feminis dalam setiap naskah beritanya. Ideologi ini dikemas melalui pengemasan isu-isu dan topik-topik terkini yang berkaitan dengan perempuan.
Dalam mengangkat isu kepemimpinan perempuan, Jurnal Perempuan melihat konteks ini sangat sesuai dengan kondisi keindonesian saat ini yang sedang menyongsong 'pemilu 2014' baik legislatif, maupun eksekutif. Melalui tema kepemimpinan perempuan ini, Jurnal Perempuan mendorong para pemimpin perempuan untuk terus dapat memberdayakan dirinya untuk tampil menjadi pemimpin yang memiliki perspektif gender yang berkeadilan. Sementara Jurnal Afirmasi mengangkat tema kepemimpinan perempuan lebih pada konteks kiprah organisasi perempuan, baik lokal maupun nasional. Melalui organisasi, perempuan dianggap lebih mampu memberdayakan diri dalam kepemimpinan serta mengorganisir kekuatan kelompoknya berdasarkan kepentingan bersama. Melalui organisasi, perempuan dianggap lebih mampu mengatasi segala tantangan yang selama ini mengungkung perempuan untuk berkiprah di ruang publik, seperti perlakuan diskriminatif, streotipe, labeling, subordinasi, dan lain sebagainya.
Oplah Jurnal Perempuan lebih besar daripada Jurnal Afirmasi. Hal ini dikarenakan, di samping lebih lama berdiri, Jurnal Perempuan juga dijual dengan sistem berlangganan, Online dan melalui toko buku yang tersebar di berbagai daerah. Sementara oplah Jurnal Afimasi lebih terbatas karena hanya disebar secara gratis melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Women Research Institute (WRI), sebagai lembaga yang menaungi Jurnal Afirmasi.
Topik yang diambil oleh kedua media (Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi) mengangkat seputar permasalahan perempuan terkini. Namun penentuan penulis dan narasumber agak berbeda antara kedua media tersebut. Jurnal Perempuan mengundang penulis-penulis yang dianggap ahli di bidangnya untuk berkontribusi sesuai tema yang ditentukan. Sementara Jurnal Afirmasi menjadikan hasil penelitian sebagai bahan berita atau naskahnya.
Dalam perkembangan pers dewasa ini, biasanya media mainstream berusaha menyelaraskan sebuah isu dengan kepentingan pasar. Namun yang terjadi tidak demikian bagi Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi. Hal ini dikarenakan kedua media tersebut mencari pengiklan yang sesuai dengan visi misi mereka dalam upaya menyuarakan kepentingan kaum perempuan dan kaum marjinal lainnya, demi tegaknya demokrasi yang berkeadilan di Indonesia. Namun demikian, agar ide-ide tentang kesetaraan gender sampai pada khalayak pembaca kedua media tersebut mengemas isu melalui penggunaan bahasa yang popular dan bisa dipahami oleh masyarakat umum.
Perspektif yang digunakan oleh pekerja kedua media tersebut (wartawan atau penulis) merupakan perspektif feminis yang membongkar kesadaran perempuan untuk bangkit memperbaiki nasib yang selama ini terkungkung oleh konstruk sosial. Sebagai media yang pro terhadap semangat reformasi, Jurnal Perempuan dan Jurnal Afimasi menjadi media alternatif yang mengusung semangat demokrasi, terutama pada aspek kebebasan berpendapat, konsep keadilan, dan kesetaraan.
Adapun kerangka teori yang dipakai adalah teks yang ada pada naskah berita dari media dengan teori ideologi dan hegemoni media yang diintertekstualitaskan dengan produksi dan konsumsi teks serta sosial budaya pers yang ada di Indonesia. Hal ini dipakai sebagai upaya membongkar ideologi yang dipakai oleh kedua media tersebut.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kedua media; yakni Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi menyebarkan ideologi feminis dalam setiap naskah beritanya. Ideologi ini dikemas melalui pengemasan isu-isu dan topik-topik terkini yang berkaitan dengan perempuan.
Dalam mengangkat isu kepemimpinan perempuan, Jurnal Perempuan melihat konteks ini sangat sesuai dengan kondisi keindonesian saat ini yang sedang menyongsong 'pemilu 2014' baik legislatif, maupun eksekutif. Melalui tema kepemimpinan perempuan ini, Jurnal Perempuan mendorong para pemimpin perempuan untuk terus dapat memberdayakan dirinya untuk tampil menjadi pemimpin yang memiliki perspektif gender yang berkeadilan. Sementara Jurnal Afirmasi mengangkat tema kepemimpinan perempuan lebih pada konteks kiprah organisasi perempuan, baik lokal maupun nasional. Melalui organisasi, perempuan dianggap lebih mampu memberdayakan diri dalam kepemimpinan serta mengorganisir kekuatan kelompoknya berdasarkan kepentingan bersama. Melalui organisasi, perempuan dianggap lebih mampu mengatasi segala tantangan yang selama ini mengungkung perempuan untuk berkiprah di ruang publik, seperti perlakuan diskriminatif, streotipe, labeling, subordinasi, dan lain sebagainya.
Oplah Jurnal Perempuan lebih besar daripada Jurnal Afirmasi. Hal ini dikarenakan, di samping lebih lama berdiri, Jurnal Perempuan juga dijual dengan sistem berlangganan, Online dan melalui toko buku yang tersebar di berbagai daerah. Sementara oplah Jurnal Afimasi lebih terbatas karena hanya disebar secara gratis melalui kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh Women Research Institute (WRI), sebagai lembaga yang menaungi Jurnal Afirmasi.
Topik yang diambil oleh kedua media (Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi) mengangkat seputar permasalahan perempuan terkini. Namun penentuan penulis dan narasumber agak berbeda antara kedua media tersebut. Jurnal Perempuan mengundang penulis-penulis yang dianggap ahli di bidangnya untuk berkontribusi sesuai tema yang ditentukan. Sementara Jurnal Afirmasi menjadikan hasil penelitian sebagai bahan berita atau naskahnya.
Dalam perkembangan pers dewasa ini, biasanya media mainstream berusaha menyelaraskan sebuah isu dengan kepentingan pasar. Namun yang terjadi tidak demikian bagi Jurnal Perempuan dan Jurnal Afirmasi. Hal ini dikarenakan kedua media tersebut mencari pengiklan yang sesuai dengan visi misi mereka dalam upaya menyuarakan kepentingan kaum perempuan dan kaum marjinal lainnya, demi tegaknya demokrasi yang berkeadilan di Indonesia. Namun demikian, agar ide-ide tentang kesetaraan gender sampai pada khalayak pembaca kedua media tersebut mengemas isu melalui penggunaan bahasa yang popular dan bisa dipahami oleh masyarakat umum.
Perspektif yang digunakan oleh pekerja kedua media tersebut (wartawan atau penulis) merupakan perspektif feminis yang membongkar kesadaran perempuan untuk bangkit memperbaiki nasib yang selama ini terkungkung oleh konstruk sosial. Sebagai media yang pro terhadap semangat reformasi, Jurnal Perempuan dan Jurnal Afimasi menjadi media alternatif yang mengusung semangat demokrasi, terutama pada aspek kebebasan berpendapat, konsep keadilan, dan kesetaraan.
Chotijah - Personal Name
212122003 - Chotijah
TESIS PGSC - POLITICAL
Tesis PMK
Indonesia
Universitas Paramadina
2014
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...