Gambaran Subjective Well-Being pada Anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor
Seluruh individu menginginkan kebahagiaan yang utuh pada kehidupan sehari-hari. Evaluasi kehidupan adalah cara individu menilai kehidupan dan melihat kebahagiaan yang dimiliki. Penilaian tersebut berasal dari domain kehidupan seperti pekerjaan, pernikahan, dan lain-lain. Berdasar beragamnya domain kehidupan sebagai sumber penilaian, subjective wellbeing membantu individu mengevaluasi kehidupan sehari-hari yang berjalan baik dan menyenangkan. Pekerjaan adalah identitas dan memunculkan penilaian dari individu lain di lingkungan. Pekerjaan pada penelitian ini adalah Anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor. Anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor menyadari mereka membutuhkan penilaian kehidupan yang dijalani sehari-hari. Hal ini berseberangan dengan karakter pekerjaan yang membuat mereka jauh dari domain-domain sumber penilaian hidup.
Berdasarkan fenomena tersebut dilakukan penelitian kualitatif tentang subjective wellbeing pada anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor. Peneliti menggunakan metode kualitatif-model studi kasus dan menggunakan sebelas dimensi pembentuk subjective well-being milik Sell dan Nagpal untuk menggambarkan. Penelitian dilaksanakan di Kepolisian Sektor Mampang Prapatan menggunakan dua subjek dan empat informan bersedia menjadi responden penelitian. Temuan dalam penelitian ini adalah kedua usbjek mampu mencapai kepuasan hidup sebagai anggota Unit Intelijen Keamanan. Temuan tersebut mematahkan asumsi pada pekerjaan berkarakter tertutup seperti anggota Unit Intelkam jauh dari kepuasan hidup dan kebahagiaan. Pada penelitian ini ditemukan tiga faktor yaitu kepribadian, relasi sosial, dan adaptasi mempengaruhi gambaran subjective well-being pada anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor.
Kata Kunci : subjective well-being, intelijen keamanan, kepolisian sektor
Daftar Pustaka: 54, 1984-2013
Berdasarkan fenomena tersebut dilakukan penelitian kualitatif tentang subjective wellbeing pada anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor. Peneliti menggunakan metode kualitatif-model studi kasus dan menggunakan sebelas dimensi pembentuk subjective well-being milik Sell dan Nagpal untuk menggambarkan. Penelitian dilaksanakan di Kepolisian Sektor Mampang Prapatan menggunakan dua subjek dan empat informan bersedia menjadi responden penelitian. Temuan dalam penelitian ini adalah kedua usbjek mampu mencapai kepuasan hidup sebagai anggota Unit Intelijen Keamanan. Temuan tersebut mematahkan asumsi pada pekerjaan berkarakter tertutup seperti anggota Unit Intelkam jauh dari kepuasan hidup dan kebahagiaan. Pada penelitian ini ditemukan tiga faktor yaitu kepribadian, relasi sosial, dan adaptasi mempengaruhi gambaran subjective well-being pada anggota Unit Intelijen Keamanan Kepolisian Sektor.
Kata Kunci : subjective well-being, intelijen keamanan, kepolisian sektor
Daftar Pustaka: 54, 1984-2013
Bramantyo Adi - Personal Name
210000097 - Bramantyo Adi
SKRIPSI PSI
Skripsi PPS
Indonesia
Universitas Paramadina
2014
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...