Kajian Epistemologi Filsafat Perennial dalam Doktrin Frithjof Schuon (As-Syaikh Īsā Nūruddīn Ahmad)
Skripsi ini berjudul Kajian Epistemologi Filsafat Perennial dalam Doktrin Frithjof Schuon. Skripsi ini membahas filsafat perennial secara umum dan epistemologinya secara khusus dalam kerangka doktrin seorang sufi abad 21 yaitu Frithjof Schuon atau yang juga dikenal dengan nama as-Syaikh Īsā Nūruddīn Ahmad. Epistemologi filsafat perennial terbilang penting untuk dibahas karena ia menggunakan landasan teoritis universal sehingga ia bisa menjadi titik-temu agama-agama. Kerangka besar dari doktrin beliau adalah tradisi yang secara literal berarti transmisi dari Tuhan. Filsafat perennial bukanlah aliran tertentu melainkan sebuah kesadaran. Ia adalah kesadaran Tuhan yang memancar dan menjadi ragam level keberadaan (ontologi). Ia juga berarti kesadaran manusia untuk kembali ke jati diri-Nya (epistemologi). Persoalan yang diajukan dalam penelitian ini adalah bagaimana pada hakikatnya manusia bisa mengetahui sesuatu secara obyektif? Metode yang dipakai dalam penulisan skripsi ini adalah riset kepustakaan dengan mengamati dan memperhatikan teks-teks yang telah ditulis sendiri oleh Frithjof Schuon di samping beberapa teks dari murid-muridnya yang cukup membantu.
Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa ada empat elemen esensial dalam filsafat perennial yaitu kebenaran metafisika, kemuliaan spiritual, keindahan dan pemujaan. Empat elemen tersebut digunakan manusia dalam tradisi apapun dia hidup untuk mencapai Tuhan yang kerap disebut dengan ma'rifah/gnosis (epistemologi).
Di samping itu, akan diuraikan juga bahwa dalam diri manusia terdapat tiga elemen esensial yang bisa ia gunakan dalam realisasi, yaitu intelegensi, perasaan dan kehendak. Tiga elemen esensial dalam diri manusia tersebut adalah jelmaan dari esensi Tuhan yang berupa Sat (Keberadaan), Chit (Kesadaran) dan Ananda (Kebahagiaan). Karena itulah manusia disebut sebagai the Image of God atau Citra Tuhan.
Selanjutnya, kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa manusia bisa mengetahui segala hal yang bisa diketahui secara total dan obyektif karena pada hakikatnya intelek yang ada di dalam dirinya adalah intelek Tuhan dan bukan milik manusia sendiri. Dengan kata lain, Tuhan mengetahui diri-Nya dengan Diri-Nya melalui manusia. Manusia bisa mengetahui realitas dengan dua cara, yaitu pertama inteleksi dan kedua wahyu. Di samping itu, transenden tidak bertentangan dengan indra yang ada pada manusia. Nalar manusia yang berhubungan dengan fenomena sensorial pasti bersesuaian dengan intelek yang berhubungan dengan fenomena spiritual. Dalam perjalanan batin manusia untuk mengenal Realitas, manusia harus bersikap rendah hati dan ia tidak diperkenankan untuk memiliki kebanggaan intelektual. Ketika ia tidak bersikap rendah hati, maka horizon pengetahuan akan terbatas dan pengetahuannya menjadi tidak total dan tidak obyektif.
Kata Kunci: Filsafat Perennial, Epsitemologi, Citra Tuhan, Intelegensi, Inteleksi, Wahyu
Daftar Pustaka: 34, (1978-2014)
Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa ada empat elemen esensial dalam filsafat perennial yaitu kebenaran metafisika, kemuliaan spiritual, keindahan dan pemujaan. Empat elemen tersebut digunakan manusia dalam tradisi apapun dia hidup untuk mencapai Tuhan yang kerap disebut dengan ma'rifah/gnosis (epistemologi).
Di samping itu, akan diuraikan juga bahwa dalam diri manusia terdapat tiga elemen esensial yang bisa ia gunakan dalam realisasi, yaitu intelegensi, perasaan dan kehendak. Tiga elemen esensial dalam diri manusia tersebut adalah jelmaan dari esensi Tuhan yang berupa Sat (Keberadaan), Chit (Kesadaran) dan Ananda (Kebahagiaan). Karena itulah manusia disebut sebagai the Image of God atau Citra Tuhan.
Selanjutnya, kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa manusia bisa mengetahui segala hal yang bisa diketahui secara total dan obyektif karena pada hakikatnya intelek yang ada di dalam dirinya adalah intelek Tuhan dan bukan milik manusia sendiri. Dengan kata lain, Tuhan mengetahui diri-Nya dengan Diri-Nya melalui manusia. Manusia bisa mengetahui realitas dengan dua cara, yaitu pertama inteleksi dan kedua wahyu. Di samping itu, transenden tidak bertentangan dengan indra yang ada pada manusia. Nalar manusia yang berhubungan dengan fenomena sensorial pasti bersesuaian dengan intelek yang berhubungan dengan fenomena spiritual. Dalam perjalanan batin manusia untuk mengenal Realitas, manusia harus bersikap rendah hati dan ia tidak diperkenankan untuk memiliki kebanggaan intelektual. Ketika ia tidak bersikap rendah hati, maka horizon pengetahuan akan terbatas dan pengetahuannya menjadi tidak total dan tidak obyektif.
Kata Kunci: Filsafat Perennial, Epsitemologi, Citra Tuhan, Intelegensi, Inteleksi, Wahyu
Daftar Pustaka: 34, (1978-2014)
Halim Miftahul Khoiri - Personal Name
210000020 - Halim Miftahul Khoiri
SKRIPSI FA
Skripsi PFA
Indonesia
Universitas Paramadina
2014
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...