Dinamika China dan Jepang dalam Peningkatan Kekuatan Maritim pada Sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu (2008-2013)
Skripsi ini mendiskusikan mengenai dinamika antara China dan Jepang dalam peningkatan kekuatan maritim pada sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu selama periode 2008 - 2013. Kepulauan Senkaku/Diaoyu sudah lama diperebutkan oleh China dan Jepang. Sengketa ini kembali muncul pada akhir tahun 1960an ketika sumber daya minyak bumi ditemukan di dasar laut di sekitar Kepulauan Senkaku/Diaoyu. Untuk mempertahankan kedaulatan wilayah negara dan mendapatkan kepentingannya, China mulai meningkatkan kekuatan maritimnya untuk memperkuat penjagaan di Kepulauan Senkaku/Diaoyu. Sebagai negara yang sedang memiliki masalah dengan China, tentu saja Jepang merasa khawatir dengan peningkatan kekuatan maritim yang dilakukan oleh China. Jepang kemudian merespon tindakan China dengan ikut meningkatkan kapabilitas militernya melalui dua cara, yaitu pertama, merubah kebijakan keamanan Jepang dan meningkatkan armada dan patroli di sekitar Kepulauan Senkaku/Diaoyu. Kedua, meningkatkan kerjasama dengan Amerika Serikat.
Metodologi berfokus pada salah satu model yaitu penelitian kualitatif. Paradigma yang digunakan adalah realisme di dalam studi hubungan internasional. Studi ini dilakukan dengan menggabungkan konsep konflik, kepentingan nasional, dan aksi - reaksi (offensive - defensive) untuk mencari tahu bagaimana sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu ini mempengaruhi peningkatan kekuatan maritim China dan Jepang.
Peningkatan kapabilitas militer yang dilakukan oleh kedua negara membuat intensitas sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu menjadi semakin meningkat. Selain itu, sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu telah membuat hubungan China dan Jepang menjadi semakin buruk dan berpotensi mengakibatkan terjadinya konflik bersenjata. Sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu ini juga dapat menimbulkan adanya perlombaan senjata antara China dan Jepang yang dapat mempengaruhi stabilitas keamanan di kawasan Asia Timur dan dunia internasional. Ini dikarenakan kedua negara akan terus meningkatkan kekuatan maritimnya untuk melindungi kedaulatan wilayah dan kepentingan nasionalnya. Peningkatan tersebut tentu membuat sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu ini menjadi semakin sulit untuk diselesaikan.
Kata Kunci : China, Jepang, Maritim, Kepulauan Senkaku/Diaoyu, Laut China Timur, Sengketa, Kepentingan nasional, Aksi reaksi
Daftar Pustaka: 9 Buku, 34 Jurnal dan Makalah, 7 Dokumen dan Laporan, 66 Artikel Online dan Website
Metodologi berfokus pada salah satu model yaitu penelitian kualitatif. Paradigma yang digunakan adalah realisme di dalam studi hubungan internasional. Studi ini dilakukan dengan menggabungkan konsep konflik, kepentingan nasional, dan aksi - reaksi (offensive - defensive) untuk mencari tahu bagaimana sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu ini mempengaruhi peningkatan kekuatan maritim China dan Jepang.
Peningkatan kapabilitas militer yang dilakukan oleh kedua negara membuat intensitas sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu menjadi semakin meningkat. Selain itu, sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu telah membuat hubungan China dan Jepang menjadi semakin buruk dan berpotensi mengakibatkan terjadinya konflik bersenjata. Sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu ini juga dapat menimbulkan adanya perlombaan senjata antara China dan Jepang yang dapat mempengaruhi stabilitas keamanan di kawasan Asia Timur dan dunia internasional. Ini dikarenakan kedua negara akan terus meningkatkan kekuatan maritimnya untuk melindungi kedaulatan wilayah dan kepentingan nasionalnya. Peningkatan tersebut tentu membuat sengketa Kepulauan Senkaku/Diaoyu ini menjadi semakin sulit untuk diselesaikan.
Kata Kunci : China, Jepang, Maritim, Kepulauan Senkaku/Diaoyu, Laut China Timur, Sengketa, Kepentingan nasional, Aksi reaksi
Daftar Pustaka: 9 Buku, 34 Jurnal dan Makalah, 7 Dokumen dan Laporan, 66 Artikel Online dan Website
Ratu Dyah Ayu Widyaswari - Personal Name
211000253 - Ratu Dyah Ayu Widyaswari
SKRIPSI HI
Skripsi PHI
Indonesia
Universitas Paramadina
2015
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...