Aksi Cina Dan Reaksi Filipina Dalam Sengketa Wilayah Kepulauan Spratly (2002-2012)
Mengawali abad ke-21, Cina terlihat menjadi poros kekuatan dunia baru yang sedang berkembang. Secara ekonomi diiringi dengan peningkatan kemampuan militernya, Cina mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang menegaskan posisinya dalam sistem internasional. Konflik Laut Cina Selatan menjadi konflik internasional yang paling fenomenal mengiringi kebangkitan Cina sebagai poros kekuatan dunia baru. Mealui konflik tersebut, komunitas internasional menyaksikan bagaimana Cina bersikap secara tegas dalam memainkan isu perbatasan terhadap beberapa negara seperti Jepang, Filipina, Brunei, Malaysia, Vietnam dan entitas politik Taiwan. Dari negara-negara tersebut, secara spesifik penelitian ini memfokuskan Filipina sebagai negara yang paling gencar untuk menghadapi sikap arogan Cina di wilayah Laut Cina Selatan, karena di sebagian wilayah tersebut terdapat klaim yang dimiliki oleh Filipina terhadap beberapa gugusan kepulauan Spratly yang menurut Filipina, batasan tersebut telah menjadi patok batas kedaulatan berdasarkan hukum perairan internasional UNCLOS 1982. Konflik ini menjadi menarik ketika Cina justru menghadirkan kebijakan-kebijakan kontroversi terhadap Filipina meski Cina turut menandatangani Code of Conduct yang dibuat bersama kesepuluh negara anggota ASEAN termasuk Filipina. Alhasil, kebijakan tersebut tidak hanya memberikan kesan ancaman bagi Filipina dan negara anggota ASEAN lainnya, khususnya yang terlibat, namun konflik tersebut juga melibatkan Amerika Serikat sebagai sekutu tradisional Filipina.
Dengan kata lain, penelitian ini melihat bagaimana kebijakan tersebut sebagai hasil dari peningkatan Power yang dimiliki oleh Cina dan menghasilkan sebuah kondisi perimbangan kekuatan. Kondisi perimbangan kekuatan tersebut ditandai ketika Filipina menjadikan ASEAN sebagai wadah untuk meningkatkan fokus keamanan terhadap instabilitas Laut Cina Selatan. Selain itu juga, kondisi perimbangan kekuatan tersebut juga terlihat ketika Filipina bersama dengan Amerika Serikat memperkuat kerjasamanya sebagai bentuk antisipasi ancaman yang diberikan oleh Cina.
Daftar pustaka: 34 buku, 11 jurnal, 34 Situs.
Dengan kata lain, penelitian ini melihat bagaimana kebijakan tersebut sebagai hasil dari peningkatan Power yang dimiliki oleh Cina dan menghasilkan sebuah kondisi perimbangan kekuatan. Kondisi perimbangan kekuatan tersebut ditandai ketika Filipina menjadikan ASEAN sebagai wadah untuk meningkatkan fokus keamanan terhadap instabilitas Laut Cina Selatan. Selain itu juga, kondisi perimbangan kekuatan tersebut juga terlihat ketika Filipina bersama dengan Amerika Serikat memperkuat kerjasamanya sebagai bentuk antisipasi ancaman yang diberikan oleh Cina.
Daftar pustaka: 34 buku, 11 jurnal, 34 Situs.
Astri Anto - Personal Name
206000231 - Astri Anto
SKRIPSI HI
Skripsi PHI
Indonesia
Universitas Paramadina
2015
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...