Kepentingan Indonesia terhadap Implementasi Bali Action Plan dalam Isu Perubahan Iklim (2007-2010)
Skripsi ini membahas tentang Kepentingan Indonesia terhadap Implementasi Bali Action Plan dalam Isu Perubahan Iklim (2007-2010). Indonesia merupakan salah satu negara penyumbang emisi terbesar di dunia terutama dari dua sektor utama yaitu sektor energi dan sektor kehutanan. Selain itu, Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan negara yang rentan terhadap dampak buruk dari perubahan iklim di dunia. Permasalahan tersebut membuat Indonesia ikut aktif dalam negosiasi internasional mengenai perubahan iklim sebagai upaya untuk menurunkan laju emisi GRK.
Negosiasi internasional dalam isu perubahan iklim kemudian secara resmi membentuk dua rezim internasional UNFCCC dan Protokol Kyoto untuk mengatur tata cara negara di dunia menurunkan emisi GRK. Namun, pada pelaksanaan dua rezim internasional tersebut terdapat perbedaan kepentingan antara negara di dunia yang kemudian di bawa ke COP-13 UNFCCC di Bali pada tahun 2007. Pertemuan COP-13 UNFCCC di Bali bertujuan untuk membentuk rangka jangka panjang dalam aksi penurunan emisi GRK dari berbagai sektor, terutama sektor kehutanan dan energi, selain itu untuk mengantisipasi Protokol Kyoto yang akan habis masa berlakunya pada tahun 2012. Tujuan dalam COP-13 kemudian menghasilkan Bali Action Plan dengan empat blok di dalamnya seperti mitigasi, adaptasi, pendanaan, dan alih teknologi. Keseluruhan bagian dalam Bali Action Plan digunakan negara di dunia untuk memperkuat komitmen penurunan emisi GRK nya hingga tahun 2010.
Untuk menganalisa masalah dalam skripsi ini maka akan digunakan perspektif Liberalisme tepatnya yaitu perspektif turunan dari Liberalisme yaitu Liberal Institusional, konsep Kepentingan Nasional, teori Politik Hijau, dan International Politics of the Environment. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah eksplanatif yaitu digunakan untuk menjelakan suatu abyek, masalah yang muncul dan dapat digunakan untuk memaparkan ketertarikan dalam objek. Teknik pengumpulan data dalam skripsi ini adalah melalui buku-buku, surat kabar, surat kabar, jurnal ilmiah, artikel-artikel maupun sumber lainnya.
Daftar Pustaka : 18 Buku, 7 Jurnal, 1 Majalah, 32 situs internet.
Negosiasi internasional dalam isu perubahan iklim kemudian secara resmi membentuk dua rezim internasional UNFCCC dan Protokol Kyoto untuk mengatur tata cara negara di dunia menurunkan emisi GRK. Namun, pada pelaksanaan dua rezim internasional tersebut terdapat perbedaan kepentingan antara negara di dunia yang kemudian di bawa ke COP-13 UNFCCC di Bali pada tahun 2007. Pertemuan COP-13 UNFCCC di Bali bertujuan untuk membentuk rangka jangka panjang dalam aksi penurunan emisi GRK dari berbagai sektor, terutama sektor kehutanan dan energi, selain itu untuk mengantisipasi Protokol Kyoto yang akan habis masa berlakunya pada tahun 2012. Tujuan dalam COP-13 kemudian menghasilkan Bali Action Plan dengan empat blok di dalamnya seperti mitigasi, adaptasi, pendanaan, dan alih teknologi. Keseluruhan bagian dalam Bali Action Plan digunakan negara di dunia untuk memperkuat komitmen penurunan emisi GRK nya hingga tahun 2010.
Untuk menganalisa masalah dalam skripsi ini maka akan digunakan perspektif Liberalisme tepatnya yaitu perspektif turunan dari Liberalisme yaitu Liberal Institusional, konsep Kepentingan Nasional, teori Politik Hijau, dan International Politics of the Environment. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah eksplanatif yaitu digunakan untuk menjelakan suatu abyek, masalah yang muncul dan dapat digunakan untuk memaparkan ketertarikan dalam objek. Teknik pengumpulan data dalam skripsi ini adalah melalui buku-buku, surat kabar, surat kabar, jurnal ilmiah, artikel-artikel maupun sumber lainnya.
Daftar Pustaka : 18 Buku, 7 Jurnal, 1 Majalah, 32 situs internet.
Retno Niken Palupi - Personal Name
207000296 - Retno Niken Palupi
SKRIPSI HI
Skripsi PHI
Indonesia
Universitas Paramadina
2011
Jakarta
LOADING LIST...
LOADING LIST...